Penghujung tahun 2018 ini ingin saya isi dengan membaca dan menulis. Maka dua kegiatan ini dapat dijadikan satu dengan cara membuat ringkasan atau reviu buku. Maka buku pertama yang ingin dibuatkan ringkasannya adalah: "Mindshift" dari Barbara Oakley, PhD. Buku ini buku baru terbitan tahun 2017. Meskipun demikian, beberapa nama besar menuliskan dukungan mereka terhadap penerbitan buku ini.
Berikut ini adalah transkreasi dari reviu singkat salah satu perusahaan perdagangan elektronik multinasional Ama*on.
Mindshift mengungkap bagaimana kita dapat melampaui ide-ide kaku yang terikat stereotipe mengenai apa yang mungkin kita pelajari dan bagaimana kita menjadi yang kita pelajari tersebut.
Buku ini menunjukkan pada kita bagaimana kita membuka dan mengembangkan talenta-talenta yang - tidak kita sadari - kita miliki, terlepas dari usia dan latar belakang kita.
Kita kerap diberitahu untuk 'mengikuti passion kita', tetapi tidak itu saja, dalam buku ini, Dr. Barbara Oakley menunjukkan bagaimana kita dapat memperluas passion kita.
Dr Oakley mengambil beberapa temuan terkait neurosains yang mengantarkan pada ide mengenai bakat dan kemampuan yang terbaru yang membantu pemahaman kita mengenai bagaimana kita dapat berubah.
Yang dilihat sebagai karakter minus, seperti kurang kemampuan mengingat, ternyata disertai dengan kelebihan tersembunyi, seperti kreativitas yang baik. Buku mindshift ini membawa kita lebih dalam lagi kepada bagaimana manusia dapat berubah dan berkembang. Satu-satunya hambatan sebenarnya adalah pemahaman awal kita yang seringkali kaku. Tetapi dengan insight mental yang tepat, kita dapat mengakses potensi tersembunyi dan mencipatkan kesempatan baru (untuk apapun).
Secara pribadi, saya tertarik untuk membuat blog yang mirip seperti postingan ini. Blog ini sudah launch sejak tahun 2010. Berikut penjelasan mengenai blog ini. Judulnya sama: Mindshift. Mungkin itu pula sebabnya saya ingin mengupas tentang konsep ini.
Baik, kita mulai yah. Buku ini terdiri dari 13 bab.
Bab 1, Bertransformasi.
Bab 2, Belajar bukan hanya mempelajari (Learning is not just Studying)
Bab 3, Mengubah Budaya: Sebuah Revolusi
Bab 4, Masa Lalu yang 'tidak bermanfaat', bisa jadi sebuah keuntungan (melewati pintu belakang untuk mencapai karir yang baru)
Bab 5, Menuliskan kembali aturan main: Nontraditional Learning
Bab 6, Singapore: Sebuah Negara yang Future-Ready
Bab 7, Menaikkan Educational Playing Field
Bab 8, Menghindari Kebuntuan karir
Bab 9, Runtuhnya Mimpi, membawa pada Mimpi yang baru.
Bab 10, Mengubah Krisis Paruh Baya ke Midlife Opportunity
Bab 11, Nilai manfaat MOOC dan Pembelajaran Online
Bab 12, Penyusunan MOOC
Bab 13, Mindshift and kelanjutannya.
Postingan selanjutnya akan membahas setiap bab.
***
The aim of Life is to LIVE, and to Live means to be aware, joyously, drunkenly, serenely, divinely AWARE. ~ Henry Miller
Tampilkan postingan dengan label self awareness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label self awareness. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Desember 2017
Sabtu, 09 Desember 2017
Suara Batin
Masih sangat berkaitan dengan post sebelumnya mengenai keberanian dan ketakutan. Ternyata, artikel ini sudah tertulis kurang lebih 10 tahun yang lalu ketika usia masih kepala 3... hahaaaa, bayangkan betapa saya adalah pembelajar yang lamban.
Tapi tak apa.. lebih baik lamban dan terus berjalan, ketimbang sudah puas dan berhenti.. (hahaaa, another Rationalization or Self Deception).
Anyway, judul asli artikel ini adalah Stillness Speak, terinspirasi judul bukunya Master Eckhart. Meskipun begitu, setelah dibaca-baca, rasanya lebih pas dengan judul baru "Suara Batin".
...
Diri yang kita kenali saat ini, Ego, justru membatasi kita dari ‘menjadi’ (Being) diri kita sendiri. Tidak percaya?
Tapi tak apa.. lebih baik lamban dan terus berjalan, ketimbang sudah puas dan berhenti.. (hahaaa, another Rationalization or Self Deception).
Anyway, judul asli artikel ini adalah Stillness Speak, terinspirasi judul bukunya Master Eckhart. Meskipun begitu, setelah dibaca-baca, rasanya lebih pas dengan judul baru "Suara Batin".
...
Diri yang kita kenali saat ini, Ego, justru membatasi kita dari ‘menjadi’ (Being) diri kita sendiri. Tidak percaya?
Untuk bisa ‘menjadi’ (Being) kita perlu sadar kalau kita 'di sini - saat ini'. Dengan demikian, kita perlu menanggalkan apapun yang mengganggu kesadaran kita 'di sini - saat ini'. Apa yang kita pikirkan, apa pengalaman dan apa kata orang tidaklah penting bagi kita menjadi diri kita. Sebaliknya, kita perlu lebih banyak merasakan. Merasakan sensasi indera yang muncul pada saat ini di tempat ini.
Maka dengan demikian, Lupakan apa saja yang terlintas dalam pikiran kita, ‘apakah ini pantas?’, ‘apakah orang lain akan menangkap ini sebagai sesuatu yang baik?’, ‘apakah kita pantas merasakan ini?’, ‘apa yang orang lain pikirkan mengenai aku jika aku melakukan ini?’ dst.
Maka dengan demikian, Lupakan apa saja yang terlintas dalam pikiran kita, ‘apakah ini pantas?’, ‘apakah orang lain akan menangkap ini sebagai sesuatu yang baik?’, ‘apakah kita pantas merasakan ini?’, ‘apa yang orang lain pikirkan mengenai aku jika aku melakukan ini?’ dst.
Saat ini Aku sedang mencoba melakukan terapi terhadap diri sendiri (eaaa kayak psikoterapist handal aja.. hehehe.. padahal jargonnya Psikologi untuk Anda bukan untuk saya).
Iya..setelah 30 tahun lebih berlalu usiaku, baru aku sadar (jadi selama ini pingsan..) kalo Aku orang yang ‘tidak bebas’. Selalu ada ketakutan yang menyertaiku di setiap pagi (hhhh…bangun sekarang apa nanti aja ya?), di setiap pemilihan baju (pake baju ini keliatan gemuk, pake baju ini apalagi, terus pake baju yang ini udah gak muat..hehehe jadi emang gendut), di setiap langkah (pake kaki kanan atau kiri yaa?), di setiap belokan (belok kanan apa kiri, atau terus aja??), di setiap perhentian (di sini aja atau agak kesana dikit ya?), pokoknya hampir di setiap proses pengambilan keputusan aku selalu merasa takut. Segala jenis rasa takut, mulai dari takut malu, takut mengecewakan orang lain, takut tidak punya teman, takut dianggap bodoh, takut dianggap tidak kompeten, takut dianggap tidak pantas, dan takut-takut yang lain.
Iya..setelah 30 tahun lebih berlalu usiaku, baru aku sadar (jadi selama ini pingsan..) kalo Aku orang yang ‘tidak bebas’. Selalu ada ketakutan yang menyertaiku di setiap pagi (hhhh…bangun sekarang apa nanti aja ya?), di setiap pemilihan baju (pake baju ini keliatan gemuk, pake baju ini apalagi, terus pake baju yang ini udah gak muat..hehehe jadi emang gendut), di setiap langkah (pake kaki kanan atau kiri yaa?), di setiap belokan (belok kanan apa kiri, atau terus aja??), di setiap perhentian (di sini aja atau agak ke
Semakin hari, aku merasa perasaan takut ini sudah pada taraf mengganggu kestabilan emosi dan kepribadianku. Aku menjadi orang yang semakin jauh dari diriku yang sebenarnya karena rasa takut ini. Padahal kalau Aku ingat, ketika kecil, Aku adalah anak yang cukup ’berani’. Sering mengikuti lomba-lomba yang memberikan cukup banyak penghargaan. Mulai dari lomba menyanyi, membaca puisi, deklamasi, menari bahkan terakhir mendapat juara III membaca berita dari lomba presenter yang diselenggarakan oleh salah satu televisi swasta di Jakarta.
Lalu kenapa sekarang aku menjadi seperti sekarang?
Cenderung menarik diri, jarang mengeluarkan pendapat pribadi, menghindari konflik, takut muncul di depan umum, menghindari tugas-tugas yang akan memaksa berada di depan layar, lebih banyak memutuskan arus pembicaraan karena tidak tahu mau mengatakan apa, dst.
Di usiaku 30 tahun, belum ada pencerahan (cieilee..bahasa Zen-nya: enlightening). [Di usiaku 41 tahun (2017), beberapa sedang dengan sadar kuatasi.]
Cenderung menarik diri, jarang mengeluarkan pendapat pribadi, menghindari konflik, takut muncul di depan umum, menghindari tugas-tugas yang akan memaksa berada di depan layar, lebih banyak memutuskan arus pembicaraan karena tidak tahu mau mengatakan apa, dst.
Di usiaku 30 tahun, belum ada pencerahan (cieilee..bahasa Zen-nya: enlightening). [Di usiaku 41 tahun (2017), beberapa sedang dengan sadar kuatasi.]
Eckhart Tolle (Stillness Speaks) mengatakan: “You can value and care for things but whenever you get attached to them, you will know, that’s the ego. Whenever you accept the loss, you go beyond ego, and ‘I am’ emerges as it is consciously. Sometimes, let things go, is an act far greater power than defending or hanging on”.
"Menjaga dan merawat tidak sama dengan terikat dengan barang milik. Itu ego. Jika hilang, atau rusak, atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita mengarah melampaui ego, terutama jika 'itu saya' muncul dengan sadar. Terkadang membiarkan sesuatu berlalu lebih membutuhkan kekuatan ketimbang memegang atau menjaga dengan erat."
"Menjaga dan merawat tidak sama dengan terikat dengan barang milik. Itu ego. Jika hilang, atau rusak, atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita mengarah melampaui ego, terutama jika 'itu saya' muncul dengan sadar. Terkadang membiarkan sesuatu berlalu lebih membutuhkan kekuatan ketimbang memegang atau menjaga dengan erat."
Ketika kita kehilangan sebuah barang yang menurut kita sangat berharga,
Bagaimanakah perasaan kita? Sedih..? Kecewa..? Galau..?
Kemudian apa yang kita lakukan? Mencari siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kehilangan tersebut..? Meninggalkan aktivitas apapun yang kita sedang kerjakan, atau paling tidak, kita tidak lagi berkonsentrasi terhadap aktivitas tersebut..?
Sekedar pertanyaan reflektif buat kita
’Apakah kita menjadi kita ‘yang kurang’ kalau barang tersebut tidak lagi bersama kita?’
’Apakah kemudian kita menjadi identik dengan barang tersebut?’
Jika aku bertanya, bagaimana perasaanmu ketika barang yang kamu sayangi hilang?
Pasti jawabannya adalah perasaan kehilangan yang tidak nyaman dan kadang-kadang bahkan sangat sentimentil terutama jika barang tersebut memiliki kelekatan emosional.
Sekarang bayangkan jika sesuatu yang melekat adalah harga diri kita. Jika kita dipermalukan, apakah itu mempengaruhi cara pandang kita? Jika kita mengecewakan orang lain, dan orang tersebut tidak lagi mau berteman dengan kita, apakah itu mempengaruhi harga diri kita? Jika kita dianggap tidak pantas dan dianggap bodoh, apakah itu mempengaruhi harga diri kita?
Apakah harga diri kita dipengaruhi oleh sesuatu yang ditentukan oleh orang-orang lain di luar diri kita?
Hal-hal itulah yang menimbulkan ketakutan pada diriku, intinya adalah Aku takut kehilangan rasa keberhargaan diri.
Tapi betulkah harga diri adalah sesuatu yang dimiliki? Sehingga kita amat takut kehilangan?
Harga diri atau ’Self Esteem’ menurut Maslow merupakan kebutuhan manusia yang menempati posisi keempat dalam bangunan hierarkinya. Ini menunjukkan bahwa inilah kebutuhan manusia yang cukup tinggi setelah kebutuhannya akan rasa aman dan rasa cinta. Tetapi kembali pertanyaan yang sama: ”Betulkah kita sudah memiliki harga diri?”
Sederhananya begini, kebutuhan dasar menurut Maslow adalah kebutuhan fisik. Jika kita sudah mendapatkan makanan apakah kemudian kita sudah bebas akan kebutuhan ini? Tentu saja tidak. Hari ini mungkin kita tidak lagi butuh makan, karena kita sudah makan. Tetapi besok hari, kebutuhan ini akan muncul lagi, begitu juga dengan keesokan harinya lagi. Kita tidak pernah betul-betul memenuhi kebutuhan kita akan makan. Padahal kebutuhan ini adalah kebutuhan paling dasar, apakah kemudian kita tidak maju-maju dan menginjak pada level kebutuhan kita yang berikutnya yaitu rasa aman? Dan bagaimana dengan cinta? Apakah kita betul-betul tidak pernah memiliki cinta?
Saya mencintai kamu. Kata ‘cinta’ disini merupakan kata kerja yang menunjukkan bahwa saya mau melakukan cinta terhadap kamu. Maka cinta di sini bukanlah dimiliki melainkan dilakukan. Kata cinta itu sendiri juga memiliki banyak konsekwensi dari keluarnya statement ini. Aku mencintai kamu, berarti aku mau melakukan..., ...., ... .
Salah kaprahnya adalah banyak orang menganggap bahwa cinta adalah perasaan yang dimiliki seseorang. Inilah yang kemudian membuat banyak orang merasa sakit ketika orang yang dicintainya pergi, ketika ia dikhianati, ketika ia kehilangan apa yang dianggapnya sebagai cinta. Apa yang salah jika orang yang kita cintai ternyata lebih menyintai orang lain? Apakah kemudian kita tidak bisa lagi menyintainya? Tentu tidak. Kita masih tetap dapat melakukan banyak hal sebagai wujud cinta kita terhadapnya.
Tetapi kemudian kita berpikir, “tetapi aku tidak akan mendapatkan dirinya, lantas buat apa?”
Itu berarti bukan lagi cinta, melainkan ego yang berbicara. Aku cinta dia, agar diapun menyintai saya. Saya mau melakukan banyak hal untuknya sebagai wujud cinta saya, agar saya juga mendapatkan banyak hal sebagai gantinya. Bukankah ini hanyalah ajang perdagangan yang memperdagangkan cinta?
Ego tidak salah, tetapi sering tidak kita sadari. Ego mengidentikkan diri dengan kepemilikan. Jika kita memiliki banyak maka tanpa sadar Ego kita pun semakin besar. Jika kita tidak menyadari perilaku dan sikap kita maka kita bukanlah diri kita sepenuhnya.
The Joy of Being – Nikmatnya menjadi Diri Sendiri
Suatu saat ketika sedang merasakan sesuatu, tanyakan kepada diri kita apakah kita memang benar-benar merasakan apa yang kita rasakan,
atau sebetulnya itu adalah apa yang kita pikirkan.
atau sebetulnya itu adalah apa yang kita pikirkan.
Jika kita pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengan seseorang pada masa lalu kita, seringkali muncul ’perasaan suka atau tidak suka’ terhadap orang tersebut. Padahal kita baru saja bertemu dengan orang ini. Terkadang bahkan kita tidak tahu alasan kita memiliki ‘perasaan’ tersebut. Coba perhatikan bahwa aku memberi tanda petik pada kata perasaan, karena sebetulnya itu bukanlah suara perasaan. Itu adalah suara pikiran kita. Kita seringkali tanpa sadar melekatkan pengalaman pribadi kita pada situasi atau orang tertentu. Orang yang baru saja kita temui ini mirip dengan seseorang yang memberikan pengalaman menyenangkan, maka kemudian tanpa sadar kita memberinya ’label’ bahwa orang ini adalah orang yang menyenangkan. Tanpa kita sadari bahwa yang kita sukai adalah apa yang kita pikirkan mengenai penampilan orang ini.
Hal yang sama juga terjadi jika orang yang baru ini mirip dengan seseorang yang dulunya pernah sangat menyakiti perasaan kita. Coba perhatikan bahwa tanpa sadar kita menempatkan perasaan sakit hati kita pada orang ini. Kita menjadi seolah-olah merasa bahwa ia betul-betul adalah orang yang tidak menyenangkan. Kasihan sekali bukan? Hanya karena ia mirip, bukan berarti ia sama dengan orang di masa lalu kita.
Ketika kita berpikiran bahwa dia adalah orang yang tidak menyenangkan, hal itu membuat kita berperilaku seperti kepada orang yang tidak kita sukai, alias perilaku yang tidak menyenangkan, maka orang tersebut pun akan bereaksi demikian, dan begitu seterusnya, kita betul-betul meyakini bahwa orang ini adalah betul-betul orang yang tidak menyenangkan.
Wow..Dan kita bersyukur bahwa kita merasa memiliki intuisi yang tajam yang mengetahui secara persis mengenai sifat dan sikap orang ’baru’ ini. Panjang sekali bukan perjalanan hubungan ini, tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya yang kita rasa, bukan betul-betul yang kita rasa melainkan apa yang sebetulnya kita pikirkan.
Maka mulai sekarang menjadi sadarlah, Lia.
Sadari bahwa semua perasaan takutmu bukanlah ketakutanmu, melainkan ketakutan egomu.
Kamu tetaplah akan menjadi seorang Lia, dengan ataupun tanpa kekhawatiran-kekhawatiran itu. Selanjutnya, biarlah mengalir dan terbukalah pada segala kemungkinan yang terjadi.
Bangunlah, ketika kamu memang perlu bangun untuk melakukan aktivitas yang kamu pilih untuk lakukan.
Pilihlah baju yang akan membuat kamu nyaman dan percaya diri.
Berbeloklah ketika kamu memang mau pergi ke suatu tempat di salah satu ruas jalan.
Berhentilah ketika kamu lelah.
Intinya, mengalirlah dan menjadi merdekalah.
#catatan_akhir_tahun_saiasilia_2017
***
#catatan_akhir_tahun_saiasilia_2017
***
Minggu, 30 April 2017
B.e.r.s.y.u.k.u.r #edisiMudik36jam
Sebagai Homo Religius atau mahluk beragama, tentu saja saya meyakini kehendak Sang Pencipta sebagai rencana terindah. Tentunya tanpa melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai pengambil keputusan lo ya.. Tetapi meskipun demikian bahkan saya meyakini bahwa keputusan saya tidak betul-betul lepas dari keinginan-Nya mengarahkan hidup saya. Amin.
Sampai saat ini sudah begitu buanyaaaaak sekali rahmat dan berkat yang sudah Allah berikan dalam hidup saya, sehingga rasanya tidak cukup hanya mengucap syukur dalam doa-doa. Saya ingin membagikannya kepada banyak orang. Mungkin supaya semakin banyak berkat yang diberikan-Nya buat saya yah.. hehee... Amiiin.
Lebaran tahun 2016 merupakan hari Raya yang cukup berkesan buat saya hingga hari ini. Pembukaan exit tol baru Brebes Timur sempat menggoda kami untuk mencobanya. Bayangkan saja, betapa kurang isengnya kami, merayakan lebaran juga enggak, butuh silaturahmi ke keluarga yang merayakan juga enggak, nah kan..
"eh, Ma.. tol baru sudah dibuka lho, di Brebes.. wuaah, perjalanan kita bisa lebih cepat niih", ujar si papa.
"Ayook, kita jalan ke Semarang, yook.. sambil nyoba tol baru..", tambah semangat dia...
Berhubung lebaran tahun itu jatuh di hari Rabu dan Kamis, dan pemerinta berbaik hati mengurangi jatah cuti kita dengan menetapkan cuti bersama di hari Senin, Rabu dan Jumat, maka praktis kita memiliki hari libur satu minggu.
Nah, gambling dimulai di sini.. Kapan kita mulai jalan? Di hari Kamis, seminggu sebelumnyakah? hari Jumat? atau Justru mendekati hari Minggu? dengan harapan jalur mudik akan terbagi rata ramainya karena panjangnya waktu libur sebelum lebaran. Silly me...!! It never happen... Si Papa sibuk mengikuti berita jalur mudik di televisi, dan bilang kalau jalur mudik lancar jaya. Tanpa kami berpikir bahwa bersamaan dengan itu 13 juta orang berpikir hal yang sama.. (http://www.dephub.go.id/welcome/readPost/badan-litbang-kemenhub-prediksi-25-juta-orang-akan-mudik-tahun-ini)
Daan, terjadilah yang harus terjadi, haahahaaa.. M.A.C.E.T.
Bahkan semua berita nasional memberitakan kondisi macet yang dikategorikan sebagai macet mudik terparah.
http://regional.kompas.com/read/2016/07/04/13524671/.ini.luar.biasa.macetnya.ini.mudik.paling.parah.
http://www.viva.co.id/ramadan2016/read/796250-macet-mudik-lebaran-2016-mabes-polri-minta-maaf
https://news.hargatop.com/2016/07/01/berita-info-jalur-mudik-lebaran-2016-sore-ini-macet-parah-di-exit-gt-brebes-timur-jalur-pantura-lancar/4127332.html
Perjalanan dimulai Sabtu, 2 Juli 2016 dini hari.. Dengan semangat 45, kami mulai berjalan. Sangaaat optimis bahwa perjalanan akan lancar.. yaiyalah, kalau baru mulai jalan saja sudah loyo, bagaimana selanjutnya, ya gak.. Maka kami mulai perjalanan dengan doa dan semangat.
Google Maps mulai menunjukkan keperkasaannya... Setelah setengah jam perjalanan, Dia menyuruh kami keluar dari tol cikampek dan menyusuri jalan biasa. Kami ikuti saja.. Saat itu di HP tertera waktu perjalanan akan berlangsung selama kurang lebih 8 jam. Makin optimislah kami... 461, 7 km ditempuh dalam 8 jam seperti perjalanan-perjalanan normal kami sebelumnya.
Selang satu jam berikutnya kami menyusuri Karawang Barat, lalu Karawang Timur melalui jalur biasa. Jalur memang tidak macet, tetapi tidak selancar perjalanan kami sebelumnya. Kami cek lagi, waktu tempuh perjalanan, anehnya masih tetap 8 jam.. Kenapa tidak berkurang juga? [sekarang saya paham, itu terjadi karena dari seluruh jalur yang akan kami tempuh, kepadatan kendaraan sudah menuju titik jalur pantura.] Ini artinya kami berkompetisi dengan ribuan kendaraan yang sedang menuju arah yang sama..
Sampai jam 7 malam, kami bahkan masih belum sampai Tegal. Berarti sudah 16 jam kami di jalan. Yang perlu disyukuri adalah, baik papa Atha, Atha maupun mamanya berada dalam kondisi psikhis yang sangat baik. Kami bisa menyikapi perjalanan ini dengan sangat positif. Anaknya bahkan masih bisa bercanda-canda. Heheee... bayangkan saja, kalau yang terjadi sebaliknya.. Haduuuh.. lelah lahir batin dong..
Malam hari itu, pikiran-pikiran ingin lepas dari situasi macetpun muncul. Dari yang ingin belok ke jalur selatan, ingin mampir ke Wonosobo, sampai ingin menginap dulu di jalan. Tidak semuanya ingin diseriusi. Yaiya, karena ini hanya pikiran nakal yang muncul untuk melepaskan diri.
Perjalanan padat di jalur pantura, membuat papa Atha berniat belok melewati jalur Selatan. Analisisnya jalur Selatan tidak akan sepadat jalur yang sedang dilewati. Tapi ternyata masuk ke jalur selatan dari jalur utara ketika waktu mudik, tidaklah mudah. Semua jalur tertutup. Tapi dasarnya BEJO, ada satu waktu, kami justru diarahkan ke jalur selatan.
Setelah akhirnya berhasil masuk di jalur selatan, kami melewati jembatan yang melintasi jalan tol Pantura yang macet total. Di situ kami merasa sangaaat bersyukur. Jam 09.00 malam itu, rasa syukur kami rayakan dengan makan bakso.
Ternyata jalur selatan tidak seindah yang dibayangkan. Kami tetap berkutat dengan macet di mana-mana. Bahkan bahan bakar mobil yang mulai tiris mau tidak mau memaksa untuk berhenti dan menginap di POM Bensin.
Jam 00.30 kami sampai di POM Bensin yang ketiga (karena di kedua stasiun pengisian yang sebelumnya, kami kehabisan bensin dan pada saat itu, masih berpikir bahwa siapa tahu POM yang berikutnya masih ada bensin. Tapi kembali lagi, kami lupa kalau kami bersaing dengan begitu banyak kendaraan dengan kondisi yang mirip).
Beritanya di sini:
http://ramadhan.kompas.com/article/read/2016/07/04/22543131/terjebak.macet.pemudik.terpaksa.beli.bensin.eceran.rp.50.000.per.liter
Oke.. kembali ke POM Bensin yang ketiga ini. Kami sempat bingung dengan situasinya. Banyak orang, banyak kendaraan mengantri, tetapi tidak ada transaksi apa-apa, malah banyak orang yang tidur-tiduran di situ. Suami sempat ragu tetapi tetap memasukkan mobil ke dalam POM Bensin.
Setelah ditanyakan, ternyata tanki pengisi bahan bakar masih di jalan, sudah jalan sejak jam 4 sore dan belum tiba juga jam 12 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu, mengantri, sambil beristirahat. Karena tidak mungkin juga bisa berjalan jauh dengan kondisi bahan bakar kritis begini.
Bergantian dengan papa Atha untuk menemani anaknya yang mulai eksplorasi, kami mencoba menikmati tempat sambil beristirahat. Tidak terasa lama, sekitar jam 6.30 pagi, tanki pengisian bahan bakar sudah tiba.. Puji Tuhan..
Setelah melewati situasi 'mulur' dan 'mungkret', istilah yang dipakai Ki Suryomentaram untuk menggambarkan suasana hati senang dan susah. Suasana hati senang (bungah) dan susah akan terus muncul silih berganti dalam setiap peristiwa hidup kita. Maka setelah pengisian bahan bakar, rasanya bungah hati.. senang.. (etapiii, siap-siap susah lagi yaa..!).
Menurut Ki Suryomentaram, Jika bungah dan susah dipahami sebagai sebuah proses yang alami, maka tidak ada yang namanya penyesalan. Semua lewat begitu saja. "Bungah, yo bungaho" (senang yang silakan senang saja), "nek susah, yo diwasno" (jika susah ya diamati saja).
Jika sekarang dibayangkan, maka perjalanan 36 jam itu rasanya beraaat sekali. Engganlah jika disuruh mengulangi kembali. Bayangkan saja, perjalanan panjang itu harus dilewati dengan kondisi AC mobil yang trouble. Hadeeeuh.. gak kurang-kurangnya cobaan dan tantangan hidup kami kaan...
Tapiiiii, dengan segala halangan dan kesulitan di atas, keajaiban yang kami temui juga buaanyaaaak sekali. (#count_the_blessings)
- Sebut saja ditunjukkan jalan oleh orang tidak dikenal, melewati sawah dan perumahan, bahkan dia sempat menyingkirkan halangan di tengah jalan. Tapi tiba-tiba di ujung jalan orang tersebut menghilang.
- Masuk di POM bensin yang antriannya sudah mengular, tetapi karena ketidaktahuan kami, malah kami masuk di antrian depan.
- Ketika kami berniat melewati jalur selatan, tetiba ada peluang dan arahan untuk menuju ke sana.
- Dari antrian yang panjang, tau-tau ada 4-5 anak usia SMP menyuruh kami mengambil belokan untuk sampai di tempat di depan kami.
- Ditunjukkan jalan alternatif oleh penduduk setempat, tetapi karena sepi tidak ada yang melewati maka sempat bingung lewat mana. Tetiba, muncul angkot dan ketika kita tanyakan arah, dia minta kita mengikutinya.
Kalau bukan malaikat, saya gak tahu lagi menyebutnya dengan apa... Semua mereka ini adalah malaikat penjaga kami sekeluarga.
Maka tak henti-henti kami mengucap syukur pada Tuhan. Puji Tuhan.
Jika Tuhan melindungi saya dan keluarga saya, maka Dia pun akan melindungi kita semua. Dia akan melindungi dan memberkati negara kita Indonesia. Tuhan tidak akan menjauh dan menutup mata dari semua peristiwa yang terjadi. Tuhan tidak akan tinggal diam.
#NKRI #BerkahAllah #PerlindunganAllah #PenyelenggaraahIlahi
Sampai saat ini sudah begitu buanyaaaaak sekali rahmat dan berkat yang sudah Allah berikan dalam hidup saya, sehingga rasanya tidak cukup hanya mengucap syukur dalam doa-doa. Saya ingin membagikannya kepada banyak orang. Mungkin supaya semakin banyak berkat yang diberikan-Nya buat saya yah.. hehee... Amiiin.
Lebaran tahun 2016 merupakan hari Raya yang cukup berkesan buat saya hingga hari ini. Pembukaan exit tol baru Brebes Timur sempat menggoda kami untuk mencobanya. Bayangkan saja, betapa kurang isengnya kami, merayakan lebaran juga enggak, butuh silaturahmi ke keluarga yang merayakan juga enggak, nah kan..
"eh, Ma.. tol baru sudah dibuka lho, di Brebes.. wuaah, perjalanan kita bisa lebih cepat niih", ujar si papa.
"Ayook, kita jalan ke Semarang, yook.. sambil nyoba tol baru..", tambah semangat dia...
Berhubung lebaran tahun itu jatuh di hari Rabu dan Kamis, dan pemerinta berbaik hati mengurangi jatah cuti kita dengan menetapkan cuti bersama di hari Senin, Rabu dan Jumat, maka praktis kita memiliki hari libur satu minggu.
Nah, gambling dimulai di sini.. Kapan kita mulai jalan? Di hari Kamis, seminggu sebelumnyakah? hari Jumat? atau Justru mendekati hari Minggu? dengan harapan jalur mudik akan terbagi rata ramainya karena panjangnya waktu libur sebelum lebaran. Silly me...!! It never happen... Si Papa sibuk mengikuti berita jalur mudik di televisi, dan bilang kalau jalur mudik lancar jaya. Tanpa kami berpikir bahwa bersamaan dengan itu 13 juta orang berpikir hal yang sama.. (http://www.dephub.go.id/welcome/readPost/badan-litbang-kemenhub-prediksi-25-juta-orang-akan-mudik-tahun-ini)
Daan, terjadilah yang harus terjadi, haahahaaa.. M.A.C.E.T.
Bahkan semua berita nasional memberitakan kondisi macet yang dikategorikan sebagai macet mudik terparah.
http://regional.kompas.com/read/2016/07/04/13524671/.ini.luar.biasa.macetnya.ini.mudik.paling.parah.
http://www.viva.co.id/ramadan2016/read/796250-macet-mudik-lebaran-2016-mabes-polri-minta-maaf
https://news.hargatop.com/2016/07/01/berita-info-jalur-mudik-lebaran-2016-sore-ini-macet-parah-di-exit-gt-brebes-timur-jalur-pantura-lancar/4127332.html
Perjalanan dimulai Sabtu, 2 Juli 2016 dini hari.. Dengan semangat 45, kami mulai berjalan. Sangaaat optimis bahwa perjalanan akan lancar.. yaiyalah, kalau baru mulai jalan saja sudah loyo, bagaimana selanjutnya, ya gak.. Maka kami mulai perjalanan dengan doa dan semangat.
Google Maps mulai menunjukkan keperkasaannya... Setelah setengah jam perjalanan, Dia menyuruh kami keluar dari tol cikampek dan menyusuri jalan biasa. Kami ikuti saja.. Saat itu di HP tertera waktu perjalanan akan berlangsung selama kurang lebih 8 jam. Makin optimislah kami... 461, 7 km ditempuh dalam 8 jam seperti perjalanan-perjalanan normal kami sebelumnya.
Selang satu jam berikutnya kami menyusuri Karawang Barat, lalu Karawang Timur melalui jalur biasa. Jalur memang tidak macet, tetapi tidak selancar perjalanan kami sebelumnya. Kami cek lagi, waktu tempuh perjalanan, anehnya masih tetap 8 jam.. Kenapa tidak berkurang juga? [sekarang saya paham, itu terjadi karena dari seluruh jalur yang akan kami tempuh, kepadatan kendaraan sudah menuju titik jalur pantura.] Ini artinya kami berkompetisi dengan ribuan kendaraan yang sedang menuju arah yang sama..
Sampai jam 7 malam, kami bahkan masih belum sampai Tegal. Berarti sudah 16 jam kami di jalan. Yang perlu disyukuri adalah, baik papa Atha, Atha maupun mamanya berada dalam kondisi psikhis yang sangat baik. Kami bisa menyikapi perjalanan ini dengan sangat positif. Anaknya bahkan masih bisa bercanda-canda. Heheee... bayangkan saja, kalau yang terjadi sebaliknya.. Haduuuh.. lelah lahir batin dong..
Malam hari itu, pikiran-pikiran ingin lepas dari situasi macetpun muncul. Dari yang ingin belok ke jalur selatan, ingin mampir ke Wonosobo, sampai ingin menginap dulu di jalan. Tidak semuanya ingin diseriusi. Yaiya, karena ini hanya pikiran nakal yang muncul untuk melepaskan diri.
Perjalanan padat di jalur pantura, membuat papa Atha berniat belok melewati jalur Selatan. Analisisnya jalur Selatan tidak akan sepadat jalur yang sedang dilewati. Tapi ternyata masuk ke jalur selatan dari jalur utara ketika waktu mudik, tidaklah mudah. Semua jalur tertutup. Tapi dasarnya BEJO, ada satu waktu, kami justru diarahkan ke jalur selatan.
Setelah akhirnya berhasil masuk di jalur selatan, kami melewati jembatan yang melintasi jalan tol Pantura yang macet total. Di situ kami merasa sangaaat bersyukur. Jam 09.00 malam itu, rasa syukur kami rayakan dengan makan bakso.
Ternyata jalur selatan tidak seindah yang dibayangkan. Kami tetap berkutat dengan macet di mana-mana. Bahkan bahan bakar mobil yang mulai tiris mau tidak mau memaksa untuk berhenti dan menginap di POM Bensin.
Jam 00.30 kami sampai di POM Bensin yang ketiga (karena di kedua stasiun pengisian yang sebelumnya, kami kehabisan bensin dan pada saat itu, masih berpikir bahwa siapa tahu POM yang berikutnya masih ada bensin. Tapi kembali lagi, kami lupa kalau kami bersaing dengan begitu banyak kendaraan dengan kondisi yang mirip).
Beritanya di sini:
http://ramadhan.kompas.com/article/read/2016/07/04/22543131/terjebak.macet.pemudik.terpaksa.beli.bensin.eceran.rp.50.000.per.liter
Setelah ditanyakan, ternyata tanki pengisi bahan bakar masih di jalan, sudah jalan sejak jam 4 sore dan belum tiba juga jam 12 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu, mengantri, sambil beristirahat. Karena tidak mungkin juga bisa berjalan jauh dengan kondisi bahan bakar kritis begini.
Bergantian dengan papa Atha untuk menemani anaknya yang mulai eksplorasi, kami mencoba menikmati tempat sambil beristirahat. Tidak terasa lama, sekitar jam 6.30 pagi, tanki pengisian bahan bakar sudah tiba.. Puji Tuhan..
Setelah melewati situasi 'mulur' dan 'mungkret', istilah yang dipakai Ki Suryomentaram untuk menggambarkan suasana hati senang dan susah. Suasana hati senang (bungah) dan susah akan terus muncul silih berganti dalam setiap peristiwa hidup kita. Maka setelah pengisian bahan bakar, rasanya bungah hati.. senang.. (etapiii, siap-siap susah lagi yaa..!).
Menurut Ki Suryomentaram, Jika bungah dan susah dipahami sebagai sebuah proses yang alami, maka tidak ada yang namanya penyesalan. Semua lewat begitu saja. "Bungah, yo bungaho" (senang yang silakan senang saja), "nek susah, yo diwasno" (jika susah ya diamati saja).
Jika sekarang dibayangkan, maka perjalanan 36 jam itu rasanya beraaat sekali. Engganlah jika disuruh mengulangi kembali. Bayangkan saja, perjalanan panjang itu harus dilewati dengan kondisi AC mobil yang trouble. Hadeeeuh.. gak kurang-kurangnya cobaan dan tantangan hidup kami kaan...
Tapiiiii, dengan segala halangan dan kesulitan di atas, keajaiban yang kami temui juga buaanyaaaak sekali. (#count_the_blessings)
- Sebut saja ditunjukkan jalan oleh orang tidak dikenal, melewati sawah dan perumahan, bahkan dia sempat menyingkirkan halangan di tengah jalan. Tapi tiba-tiba di ujung jalan orang tersebut menghilang.
- Masuk di POM bensin yang antriannya sudah mengular, tetapi karena ketidaktahuan kami, malah kami masuk di antrian depan.
- Ketika kami berniat melewati jalur selatan, tetiba ada peluang dan arahan untuk menuju ke sana.
- Dari antrian yang panjang, tau-tau ada 4-5 anak usia SMP menyuruh kami mengambil belokan untuk sampai di tempat di depan kami.
- Ditunjukkan jalan alternatif oleh penduduk setempat, tetapi karena sepi tidak ada yang melewati maka sempat bingung lewat mana. Tetiba, muncul angkot dan ketika kita tanyakan arah, dia minta kita mengikutinya.
Kalau bukan malaikat, saya gak tahu lagi menyebutnya dengan apa... Semua mereka ini adalah malaikat penjaga kami sekeluarga.
Maka tak henti-henti kami mengucap syukur pada Tuhan. Puji Tuhan.
Jika Tuhan melindungi saya dan keluarga saya, maka Dia pun akan melindungi kita semua. Dia akan melindungi dan memberkati negara kita Indonesia. Tuhan tidak akan menjauh dan menutup mata dari semua peristiwa yang terjadi. Tuhan tidak akan tinggal diam.
#NKRI #BerkahAllah #PerlindunganAllah #PenyelenggaraahIlahi
***
Sabtu, 22 April 2017
Kebahagiaanmu adalah TanggungJawabmu sendiri
"Berhentilah mengharapkan orang lain membuatmu bahagia. Kamu hanya akan menantinya seumur hidupmu dan kecewa" (Jeff Foster).
![]() |
| Just be happy, because nothing can make you happy. |
Para ilmuwan psikologi barat sudah merumuskan teori-teori mengenai kebahagiaan. Bapak Abe (Abraham Maslow) menyebutkan lima tangga kebutuhan yang dapat mengarahkan seseorang mencapai kebahagiaan. Dia mengatakan: "What a man can be, he must be." Apapun yang diinginkan seseorang untuk dia capai, pasti dapat dicapainya. Itulah yang dinamakan Aktualisasi Diri, level tertinggi dalam tangga kebutuhan Maslow.
Teori hierarki kebutuhan ini memang tidak keliru dalam mendefinisikan kebahagiaan, jika dilihat dalam konteks kepuasan hidup. Coba saja perhatikan kata: 'Apapun yang diinginkan seseorang...'
Berkaitan dengan filsafat Plato yang mengatakan bahwa Soul (Jiwa) terbagi menjadi tiga bagian, logistikon (logika), thymoeides (spirit) dan epithymetikon (appetite/ desire). Maka kebahagiaan jiwa terkait dengan terpenuhinya keinginan menjadi hanya pemenuhan salah satu peran soul, yaitu bagian yang terkait dengan appetite atau desire.
Pertanyaan selanjutnya dari ini, 'Bagaimana jika keinginanmu tidak tercapai?'
"Tentu saja aku tidak (atau belum bisa) bahagia."
Lalu betulkah bahagia harus beralasan?
Bagaimana bayi yang baru lahir dapat merasakan bahagia? Bagaimana bisa bahagia, jika mereka belum apa-apa? Belum jadi apa-apa. Belum punya apa-apa.
Jadi kapan bahagia dapat mulai diukur?
Bagaimana menjelaskan seorang tukang koran yang selalu tersenyum ketika mengantarkan koran, sedangkan di tempat lain ada seorang bapak parlente bermobil mewah, wajahnya sering terlihat ditekuk seperti sedang berpikir keras.
Maka di sinilah pandangan barat (menurut saya) masih belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Maka marilah kita mulai dengan melihat kedua
sudut pandang Ilmu Barat dan Timur mengenai kebahagiaan.
Pandangan Barat menganggap "More
is better".
Pandangan ini melihat
kebahagiaan dari apa yang sudah diperoleh,. Dan seberapa banyak perolehan itu. Sebagai
contoh, pekerjaan yang bergaji besar, kedudukan yang tinggi di tempat kerja, memiliki bawahan banyak,
merk jam tangan yang digunakan, berapa banyak negara yang sudah didatangi,
mobil atau pemilikan lain yang memiliki spec tinggi atau siapa saja orang-orang
terkenal yang sudah berfoto denganku.
Konsekwensi dari pandangan kebahagiaan ala Barat
di atas, adalah Kebahagiaan berorientasi ke luar. Selalu ada alasan
agar saya dapat bahagia. Misalnya saja, mendapatkan uang yang banyak dulu baru
saya bisa bahagia; Bisa keliling dunia dulu, setelah itu pasti saya dapat
berbahagia; atau bahkan alasan seperti Saya akan berbahagia jika sudah dapat
mengajak haji orangtua saya.
Alasan-alasan seperti ini tampaknya menjadi
alasan yang tepat untuk dapat membuat orang bahagia. Tetapi jika kita ulik
lagi, itu semua bukanlah essensi kebahagiaan. Jika mensyaratkan sesuatu, maka
kebahagiaan justru sulit datang dan menghampiri.
Lalu bagaimana pandangan Timur memandang kebahagiaan?
Mereka berprinsip "Less is better." Filosofi
Timur menganggap bahwa sumber dari segala kebahagiaan sudah ada di dalam diri
setiap manusia. Mereka tinggal perlu membangunkan kesadaran diri, bahwa
semua kelimpahan tersebut semestinya sudah mereka miliki.
Kesadaran diri menjadi kunci bagi munculnya
kebahagiaan. Maka menurut pandangan Timur, Kebahagiaan
berorientasi ke dalam. Mereka percaya bahwa tidak ada satu hal pun di luar
diri yang bertanggung jawab terhadap munculnya rasa bahagia. Semuanya sudah ada
di dalam, semuanya sudah tersedia, tinggal sekarang sadar atau tidakkah kita
untuk melihat itu semua.
Kesehatan yang cukup baik, adanya keluarga yang
dapat menemani, makanan dan rejeki yang cukup, punya pekerjaan yang cukup baik,
dapat bebas menuangkan pikiran dan perasaan, dapat bebas beribadah, ada rumah
tempat berteduh. Itu semua semestinya sudah cukup memberikan perasaan bersyukur
yang mengarah pada munculnya rasa bahagia.
***
Rabu, 07 September 2016
Tempat Sampah
Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar dan terlibat dengan kegiatan akademik seperti pengajaran, penelitian, dan pelayanan terhadap masyarakat.
Student Counselor atau Konselor mahasiswa, itu judulnya. Job desc-nya mirip dengan 'tempat sampah'. Kok tempat sampah? jelek banget permisalannya.. yah emang begitu.
Coba.. tempat, tempat apa yang dibutuhkan untuk membuang sesuatu yang jelek, dan mengganggu? Dibutuhkan tetapi sering tidak diingat kalau ada..? yaa... itulah Tempat sampah!
Boro-boro dirawat dan dijaga, seringkali malah jadi mirip sama isinya.. ya sampah.
Nah, berhubung itu yang disadari oleh kami para konselor. Makdarit, kami berusaha menjaga diri. Menjaga diri dengan hidup bersih. Bersih dari aura negatif yang seringkali terbawa oleh klien-klien kami. Transfer energi sebetulnya adalah hal yang wajar di dalam setiap relasi. Namun, lain lagi ketika relasi yang terbentuk bertemakan energi-energi negatif seperti amarah, kesedihan, kekecewaan, trauma, ketakutan. Tema-tema inilah yang biasanya mewarnai ruang konseling.
Pada saat kami memutuskan untuk bersedia menjadi 'tempat sampah', maka kami pun sudah perlu menyiapkan diri dengan segala konsekwensi ini.
Banyak yang merasa menjadi tempat curhatan orang itu mudah. Kan tinggal mendengarkan orang bercerita. Betul.
Saya sering kok, dimintai pendapat teman-teman saya. Mereka sering curhat ke saya dan minta nasihat saya.
Nah itu dia bedanya.
Bapak client-centered therapy, om Carl Rogers mengatakan bahwa setiap kita memiliki kapasitas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi dengan demikian buat apa tanya pendapat orang lain. Mereka sudah tahu. Mereka sudah paham. Tidak perlu lagi dinasihati dan diberi wejangan yang panjang kali lebar dan terasa membosankan. Tidak.. bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka hanya butuh katarsis. Mereka butuh mengeluarkan gejolak, percikan emosi yang pada saat itu menutupi mata dan kesadaran mereka sendiri.
Begitu kita konselornya mampu berperan seperti cermin yang jernih. Mampu merefleksikan gambaran real diri mereka sendiri, maka tanpa ada kesulitan, insight akan mereka peroleh sendiri. Pemahaman terhadap pemecahan masalah yang saat itu terasa berat akan jelas muncul di kepala mereka.
Penerimaan. Itu kuncinya kata om Rogers. Jika kita mampu menunjukkan sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional acceptance) maka klien akan mendapatkan pemahaman penuh mengenai diri mereka sendiri. Jalan keluarnya pun akan mereka peroleh sendiri. Mudah bukan...
Bukan!
Itu proses yang sama sekali tidak mudah. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses ini seringkali memberikan rasa tidak nyaman, dapat muncul juga perasaan sakit hati karena penolakan yang selama ini sering diperoleh dari sekitar. Sudah sedemikian biasanya kita dengan rasa sakit dan tidak nyaman yang selama ini lebih sering kita rasakan, sehingga ketika proses konseling memberikan pencerahan dan release yang tidak biasa mereka alami, biasanya mereka akan kembali lagi kepada pola-pola lama yang biasa mereka dapatkan, yaitu penolakan dan ketidaknyamanan. Bukan karena tidak ingin terlepas, melainkan karena kondisi inilah yang paling mereka kenal.
Salah satu metafora yang sering saya gunakan untuk menunjukkan pengenalan terhadap diri sendiri yaitu proses pengenalan diri ibarat mengupas dan mengupas bawang bombay, satu lapis ke lapisan lebih dalam lagi memberikan kita bukannya rasa nyaman dan enak melainkan rasa pedih dan pedas di mata dan hidung. Seperti itu pulalah proses pengenalan diri.
Ego kita sudah sedemikian tebalnya sehingga ketika kita mengupas bawang bombay untuk mendapatkan intisari siapa diri kita sesungguhnya rasanya berat dan menyakitkan.
Tetapi percayalah, proses yang terasa tidak mengenakkan ini sesungguhnya sangat membantu kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan yang selama ini dikatakan ayah ibu kita, bukan pula yang dikenal teman-teman kita, bukan juga yang dilihat guru kita di sekolah. Bukan seperti itu. Carilah lebih dalam siapa dirimu.
Virginia Satir seorang psikolog keluarga mengatakan bahwa dirimu bukanlah definisi yang dibuat orang-orang atas kamu.
So, define yourself. Who are you?
Student Counselor atau Konselor mahasiswa, itu judulnya. Job desc-nya mirip dengan 'tempat sampah'. Kok tempat sampah? jelek banget permisalannya.. yah emang begitu.
Coba.. tempat, tempat apa yang dibutuhkan untuk membuang sesuatu yang jelek, dan mengganggu? Dibutuhkan tetapi sering tidak diingat kalau ada..? yaa... itulah Tempat sampah!
Boro-boro dirawat dan dijaga, seringkali malah jadi mirip sama isinya.. ya sampah.
Nah, berhubung itu yang disadari oleh kami para konselor. Makdarit, kami berusaha menjaga diri. Menjaga diri dengan hidup bersih. Bersih dari aura negatif yang seringkali terbawa oleh klien-klien kami. Transfer energi sebetulnya adalah hal yang wajar di dalam setiap relasi. Namun, lain lagi ketika relasi yang terbentuk bertemakan energi-energi negatif seperti amarah, kesedihan, kekecewaan, trauma, ketakutan. Tema-tema inilah yang biasanya mewarnai ruang konseling.
Pada saat kami memutuskan untuk bersedia menjadi 'tempat sampah', maka kami pun sudah perlu menyiapkan diri dengan segala konsekwensi ini.
Banyak yang merasa menjadi tempat curhatan orang itu mudah. Kan tinggal mendengarkan orang bercerita. Betul.
Saya sering kok, dimintai pendapat teman-teman saya. Mereka sering curhat ke saya dan minta nasihat saya.
Nah itu dia bedanya.
Bapak client-centered therapy, om Carl Rogers mengatakan bahwa setiap kita memiliki kapasitas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi dengan demikian buat apa tanya pendapat orang lain. Mereka sudah tahu. Mereka sudah paham. Tidak perlu lagi dinasihati dan diberi wejangan yang panjang kali lebar dan terasa membosankan. Tidak.. bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka hanya butuh katarsis. Mereka butuh mengeluarkan gejolak, percikan emosi yang pada saat itu menutupi mata dan kesadaran mereka sendiri.
Begitu kita konselornya mampu berperan seperti cermin yang jernih. Mampu merefleksikan gambaran real diri mereka sendiri, maka tanpa ada kesulitan, insight akan mereka peroleh sendiri. Pemahaman terhadap pemecahan masalah yang saat itu terasa berat akan jelas muncul di kepala mereka.
Penerimaan. Itu kuncinya kata om Rogers. Jika kita mampu menunjukkan sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional acceptance) maka klien akan mendapatkan pemahaman penuh mengenai diri mereka sendiri. Jalan keluarnya pun akan mereka peroleh sendiri. Mudah bukan...
Bukan!
Itu proses yang sama sekali tidak mudah. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses ini seringkali memberikan rasa tidak nyaman, dapat muncul juga perasaan sakit hati karena penolakan yang selama ini sering diperoleh dari sekitar. Sudah sedemikian biasanya kita dengan rasa sakit dan tidak nyaman yang selama ini lebih sering kita rasakan, sehingga ketika proses konseling memberikan pencerahan dan release yang tidak biasa mereka alami, biasanya mereka akan kembali lagi kepada pola-pola lama yang biasa mereka dapatkan, yaitu penolakan dan ketidaknyamanan. Bukan karena tidak ingin terlepas, melainkan karena kondisi inilah yang paling mereka kenal.
Salah satu metafora yang sering saya gunakan untuk menunjukkan pengenalan terhadap diri sendiri yaitu proses pengenalan diri ibarat mengupas dan mengupas bawang bombay, satu lapis ke lapisan lebih dalam lagi memberikan kita bukannya rasa nyaman dan enak melainkan rasa pedih dan pedas di mata dan hidung. Seperti itu pulalah proses pengenalan diri.
Ego kita sudah sedemikian tebalnya sehingga ketika kita mengupas bawang bombay untuk mendapatkan intisari siapa diri kita sesungguhnya rasanya berat dan menyakitkan.
Tetapi percayalah, proses yang terasa tidak mengenakkan ini sesungguhnya sangat membantu kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan yang selama ini dikatakan ayah ibu kita, bukan pula yang dikenal teman-teman kita, bukan juga yang dilihat guru kita di sekolah. Bukan seperti itu. Carilah lebih dalam siapa dirimu.
Virginia Satir seorang psikolog keluarga mengatakan bahwa dirimu bukanlah definisi yang dibuat orang-orang atas kamu.
So, define yourself. Who are you?
Langganan:
Postingan (Atom)
Article: Mari Bicara Stres
Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'. Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada ...
-
Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar ...
