Baru selesai nonton Youtube-nya Vishen Lakhiani, founder dari Mindvalley, yang ngobrol bareng Patrick Grove soal pentingnya buat jurnal.
Patrick Grove sempat buat rencana 100.000.000 dollar dalam waktu setahun. Bisa? Bisa meskipun agak lama. Tapi bahkan dia bisa buat 750juta dollar. Gilak!!
Ada lagi prinsip 6Fnya Patrick yang bisa bantu untuk tetap balance ketika dalam kondisi hectic.
Urutan sesuai dengan prioritasku yah.
- Family
- Friends
- Fun
- Finance
- Fitness
- Figurehead (Image yang ingin dibangun)
Prinsipnya bisa dengan free-writing. Dan judulnya bisa macam-mace, misalnya aja.
"What would Sisilia be like in 5 years?", atau "How do I make 100.000.000 in one year." dan begitu seterusnya.
So, I would start the journaling proses. NOW.
The aim of Life is to LIVE, and to Live means to be aware, joyously, drunkenly, serenely, divinely AWARE. ~ Henry Miller
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Agustus 2019
Minggu, 10 Desember 2017
Review Buku: Mindshift - Mengatasi Hambatan dalam Belajar dan Menguak Potensi Tersembunyi
Penghujung tahun 2018 ini ingin saya isi dengan membaca dan menulis. Maka dua kegiatan ini dapat dijadikan satu dengan cara membuat ringkasan atau reviu buku. Maka buku pertama yang ingin dibuatkan ringkasannya adalah: "Mindshift" dari Barbara Oakley, PhD. Buku ini buku baru terbitan tahun 2017. Meskipun demikian, beberapa nama besar menuliskan dukungan mereka terhadap penerbitan buku ini.
Berikut ini adalah transkreasi dari reviu singkat salah satu perusahaan perdagangan elektronik multinasional Ama*on.
Mindshift mengungkap bagaimana kita dapat melampaui ide-ide kaku yang terikat stereotipe mengenai apa yang mungkin kita pelajari dan bagaimana kita menjadi yang kita pelajari tersebut.
Buku ini menunjukkan pada kita bagaimana kita membuka dan mengembangkan talenta-talenta yang - tidak kita sadari - kita miliki, terlepas dari usia dan latar belakang kita.
Kita kerap diberitahu untuk 'mengikuti passion kita', tetapi tidak itu saja, dalam buku ini, Dr. Barbara Oakley menunjukkan bagaimana kita dapat memperluas passion kita.
Dr Oakley mengambil beberapa temuan terkait neurosains yang mengantarkan pada ide mengenai bakat dan kemampuan yang terbaru yang membantu pemahaman kita mengenai bagaimana kita dapat berubah.
Yang dilihat sebagai karakter minus, seperti kurang kemampuan mengingat, ternyata disertai dengan kelebihan tersembunyi, seperti kreativitas yang baik. Buku mindshift ini membawa kita lebih dalam lagi kepada bagaimana manusia dapat berubah dan berkembang. Satu-satunya hambatan sebenarnya adalah pemahaman awal kita yang seringkali kaku. Tetapi dengan insight mental yang tepat, kita dapat mengakses potensi tersembunyi dan mencipatkan kesempatan baru (untuk apapun).
Secara pribadi, saya tertarik untuk membuat blog yang mirip seperti postingan ini. Blog ini sudah launch sejak tahun 2010. Berikut penjelasan mengenai blog ini. Judulnya sama: Mindshift. Mungkin itu pula sebabnya saya ingin mengupas tentang konsep ini.
Baik, kita mulai yah. Buku ini terdiri dari 13 bab.
Bab 1, Bertransformasi.
Bab 2, Belajar bukan hanya mempelajari (Learning is not just Studying)
Bab 3, Mengubah Budaya: Sebuah Revolusi
Bab 4, Masa Lalu yang 'tidak bermanfaat', bisa jadi sebuah keuntungan (melewati pintu belakang untuk mencapai karir yang baru)
Bab 5, Menuliskan kembali aturan main: Nontraditional Learning
Bab 6, Singapore: Sebuah Negara yang Future-Ready
Bab 7, Menaikkan Educational Playing Field
Bab 8, Menghindari Kebuntuan karir
Bab 9, Runtuhnya Mimpi, membawa pada Mimpi yang baru.
Bab 10, Mengubah Krisis Paruh Baya ke Midlife Opportunity
Bab 11, Nilai manfaat MOOC dan Pembelajaran Online
Bab 12, Penyusunan MOOC
Bab 13, Mindshift and kelanjutannya.
Postingan selanjutnya akan membahas setiap bab.
***
Berikut ini adalah transkreasi dari reviu singkat salah satu perusahaan perdagangan elektronik multinasional Ama*on.
Mindshift mengungkap bagaimana kita dapat melampaui ide-ide kaku yang terikat stereotipe mengenai apa yang mungkin kita pelajari dan bagaimana kita menjadi yang kita pelajari tersebut.
Buku ini menunjukkan pada kita bagaimana kita membuka dan mengembangkan talenta-talenta yang - tidak kita sadari - kita miliki, terlepas dari usia dan latar belakang kita.
Kita kerap diberitahu untuk 'mengikuti passion kita', tetapi tidak itu saja, dalam buku ini, Dr. Barbara Oakley menunjukkan bagaimana kita dapat memperluas passion kita.
Dr Oakley mengambil beberapa temuan terkait neurosains yang mengantarkan pada ide mengenai bakat dan kemampuan yang terbaru yang membantu pemahaman kita mengenai bagaimana kita dapat berubah.
Yang dilihat sebagai karakter minus, seperti kurang kemampuan mengingat, ternyata disertai dengan kelebihan tersembunyi, seperti kreativitas yang baik. Buku mindshift ini membawa kita lebih dalam lagi kepada bagaimana manusia dapat berubah dan berkembang. Satu-satunya hambatan sebenarnya adalah pemahaman awal kita yang seringkali kaku. Tetapi dengan insight mental yang tepat, kita dapat mengakses potensi tersembunyi dan mencipatkan kesempatan baru (untuk apapun).
Secara pribadi, saya tertarik untuk membuat blog yang mirip seperti postingan ini. Blog ini sudah launch sejak tahun 2010. Berikut penjelasan mengenai blog ini. Judulnya sama: Mindshift. Mungkin itu pula sebabnya saya ingin mengupas tentang konsep ini.
Baik, kita mulai yah. Buku ini terdiri dari 13 bab.
Bab 1, Bertransformasi.
Bab 2, Belajar bukan hanya mempelajari (Learning is not just Studying)
Bab 3, Mengubah Budaya: Sebuah Revolusi
Bab 4, Masa Lalu yang 'tidak bermanfaat', bisa jadi sebuah keuntungan (melewati pintu belakang untuk mencapai karir yang baru)
Bab 5, Menuliskan kembali aturan main: Nontraditional Learning
Bab 6, Singapore: Sebuah Negara yang Future-Ready
Bab 7, Menaikkan Educational Playing Field
Bab 8, Menghindari Kebuntuan karir
Bab 9, Runtuhnya Mimpi, membawa pada Mimpi yang baru.
Bab 10, Mengubah Krisis Paruh Baya ke Midlife Opportunity
Bab 11, Nilai manfaat MOOC dan Pembelajaran Online
Bab 12, Penyusunan MOOC
Bab 13, Mindshift and kelanjutannya.
Postingan selanjutnya akan membahas setiap bab.
***
Jumat, 02 Juni 2017
Daftar Konversi Alat Ukur Memasak
Berhubung barusan bikin kue, dan merasakan keribetan karena harus menakar ukuran kecil. Akhirnya dapat daftar konversi alat ukur dalam memasak.
Nah, buat yang pingin tambah simple dengan takaran dalam memasak.
Daftar konversi alat ukur (yang banyak digunakan dalam memasak):
Takaran Umum
1 cc = 1 ml
1 cangkir = 250 ml (8 oz)
1 sendok teh = 5 cc
1 sendok makan = 15 cc = 3 sendok teh
1 gelas = 24 sendok makan = 240 ml
1 kg = 10 ons = 2 pon
1 cangkir = 250 ml (8 oz)
1 sendok teh = 5 cc
1 sendok makan = 15 cc = 3 sendok teh
1 gelas = 24 sendok makan = 240 ml
1 kg = 10 ons = 2 pon
Takaran Sendok Makan
1 sendok makan air = 15 gram
1 sendok makan tepung jagung = 15 gram
1 sendok makan gula merah = 15 gram
1 sendok makan garam = 10 gram
1 sendok makan gula pasir = 20 gram
1 sendok makan coklat bubuk = 7 gram
1 sendok makan minyak goreng, margarin = 10 gram
1 sendok makan tepung susu = 5 gram
1 sendok makan tepung beras = 15 gram
1 sendok makan tepung maizena = 12 gram
1 seodok makan tepung tapioka = 15 gram
1 sendok makan tepung jagung = 15 gram
1 sendok makan tepung ketan = 15 gram
1 sendok makan tepung jagung = 15 gram
1 sendok makan gula merah = 15 gram
1 sendok makan garam = 10 gram
1 sendok makan gula pasir = 20 gram
1 sendok makan coklat bubuk = 7 gram
1 sendok makan minyak goreng, margarin = 10 gram
1 sendok makan tepung susu = 5 gram
1 sendok makan tepung beras = 15 gram
1 sendok makan tepung maizena = 12 gram
1 seodok makan tepung tapioka = 15 gram
1 sendok makan tepung jagung = 15 gram
1 sendok makan tepung ketan = 15 gram
Takaran Ukuran Gelas
1 Gelas tepung terigu = 130 gram
1 Gelas Gula Pasir = 230 gram
1 Gelas gula bubuk = 180 gram
1 Gelas Mentega = 210 gram
1 Gelas Gula Pasir = 230 gram
1 Gelas gula bubuk = 180 gram
1 Gelas Mentega = 210 gram
Takaran Untuk Bahan Cair
1 Liter = 1000cc = 1000ml
1 Cup = 20cc = 250ml
1 Sendok makan = 15cc = 15ml
1 Sendok Teh = 5cc = 5ml
1 Cup = 20cc = 250ml
1 Sendok makan = 15cc = 15ml
1 Sendok Teh = 5cc = 5ml
Takaran Ukuran Cup / Cangkir
1 cup tepung terigu = 140 gram
1 cup gula pasir = 225 gram
1 cup gula halus = 160 gram
1 cup gula palem = 140 gram
1 cup maizena = 125 gram
1 cup sagu/kanji = 125 gram
1 cup tepung beras = 110 gram
1 cup tepung roti = 115 gram
1 cup almond bubuk = 170 gram
1 cup kismis = 190 gram
1 cup kenari cincang = 150 gram
1 cup mete cincang = 160 gram
1 cup havermut = 90 gram
1 cup margarine = 200 gram
1 cup minyak goreng = 220 gram
1 cup coklat bubuk = 112 gram
1 cup gula merah padat = 200 gram
1 cup gula pasir = 225 gram
1 cup gula halus = 160 gram
1 cup gula palem = 140 gram
1 cup maizena = 125 gram
1 cup sagu/kanji = 125 gram
1 cup tepung beras = 110 gram
1 cup tepung roti = 115 gram
1 cup almond bubuk = 170 gram
1 cup kismis = 190 gram
1 cup kenari cincang = 150 gram
1 cup mete cincang = 160 gram
1 cup havermut = 90 gram
1 cup margarine = 200 gram
1 cup minyak goreng = 220 gram
1 cup coklat bubuk = 112 gram
1 cup gula merah padat = 200 gram
***
#Resep PROL TAPE
Malam ini, pingin coba resep prol tape sederhana, resep dari INSTAGRAM. Resep ini sudah lama sih dapetnya, tapi beneran serius bacanya ya baru pas mau buat..
Biar gak kemana-mana, taruh sekalian simpen resep di sini lah.
RESEP PROL TAPE (SIMPLE, NO MIXER NO RIBET)
by @corygrahani
400gr tape singkong (lembutkan)
60gr gula pasir
50gr keju cheddar parut
2butir telur (kocok asal)
60gr tepung terigu
80ml santan kental
30gr mentega (cairkan)
1/2 sdt essence vanilla
sejumput garam
Taburan:
keju cheddar parut
kismis/ chocochips
Cara buat:
- Campur halusan tape, gula pasir, keju parut, aduk rata. Tambahkan telur dan santan, aduk rata kembali. Masukkan terigu dengan ayakan (agar tidak menggumpal). Masukkan essens vanila, garam, aduk kembali. Terakhir masukkan mentega cair, aduk rata kembali.
- tuang ke loyang yang sudah diolesi minyak/ mentega.
- panggang selama +/- 30 menit
Penampakan .. lumayan.. tapenya terasa banget.
Not bad lah buat amatiran..
Apalagi kalau serumah doyan.. penghargaan tertinggi tuh..
***
Minggu, 07 Mei 2017
Belajar, Pendidikan dan Sekolah
Hampir setiap minggu, Atha berenang di Cibubur. Memang terbukti kesaktian si "Naga Air" ini. Bayangkan sejak umur 3 tahun dia sudah berani masuk di kolam renang dalam tanpa ban.
Bukannya tanpa usaha lho.. Bahkan usaha ini melibatkan dua pihak, si anak dan kami orangtuanya. Usaha yang dilakukan si anak, tentu saja untuk memunculkan keberanian dan keinginannya mencoba. Sedangkan usaha yang kami lakukan sebagai orangtua adalah menahan diri kami. Kami sadar harus menyerahkan prosesnya kepada si anak.. Kapan dia mau, kapan dia coba, kapan dia takut, kapan dia lelah, kapan dia mau coba lagi, kapan dia mau coba yang lebih sulit dari sebelumnya, kapan dia merasa yakin dan mau mencoba tantangan yang lebih tinggi, dst.
Orangtua seringkali tidak sadar bahwa dia sedang mengambil alih peran tanggungjawab anak untuk belajar. Ketidaksadaran ini muncul pada orangtua yang merasa perlu memaksa atau mendorong anak dalam proses belajarnya. Bisa jadi mereka merasa si anak tidak akan mau belajar jika tidak ada dorongan motivasi dari orangtuanya. Namun demikian, perlu dipikirkan akibat negatif jangka panjang pemaksaan ini bagi anak. Perlu disadari bahwa anak akan menjadi tidak terlatih untuk mendengarkan dirinya sendiri. Mereka juga tidak lagi terbiasa untuk memiliki dorongan keingintahuan terhadap sesuatu.
Secara naluriah, semua anak sebetulnya memiliki keinginan yang sangat besar untuk belajar. Tidak ada satupun anak yang tidak suka belajar. Tidak ada satupun anak (normal) yang tidak punya keingintahuan. Semua ingin mereka ketahui, semua ingin mereka lihat, ingin mereka pegang, ingin mereka dengar, ingin mereka buat, ingin mereka lakukan. Semuanya.
Lihat saja bagaimana mereka bermain. Mereka akan mencobakan ide-idenya. Bagi kita yang sudah dewasa dan lupa rasanya menjadi anak, terkadang sulit melihat usaha coba-coba ini sebagai sebuah kerja keras bagi anak. Padahal menurut saya, pada saat inilah peran belajar mandiri dapat ditumbuhkan.
Ini sesuai yang dikatakan Piaget mengenai proses belajar anak dengan membangun pemahaman dan skema pengetahuan di kepalanya (ide constructivist). Piaget menelurkan teori belajar dari hasil pengamatannya terhadap perkembangan kemampuan berpikir anaknya sendiri.
Ide constructivist dari Piaget menjelaskan bahwa setiap anak menunjukkan kemampuan mereka membangun pemahaman sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Ini menunjukkan bahwa belajar merupakan hal yang alamiah. Nah, sekarang bagaimana dengan istilah pendidikan (education). Menurut KBBI daring,
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.
Maurice Craft, seorang Research Professor di Universitas Greenwich membuat pembedaan istilah Education [Pendidikan] (dalam Bass & Good, 2004).
Di dalam bukunya "Education for Diversity", Craft menjelaskan istilah Education yang dapat berasal dari kata:
- educare: to train; to mold [untuk melatih dan membentuk], dan
- educere: to lead out [untuk mengeluarkan (potensi, kemampuan, dan daya upaya)]
Mari kita mulai membahas lebih lanjut mengenai kedua istilah tersebut.
Menurut Craft istilah pertama, Educare memiliki konsekuensi arti (dalam Bass & Good, 2004). Artinya, belajar adalah untuk mempertahankan dan menurunkan pengetahuan dalam rangka membentuk anak sesuai dengan gambaran ideal orangtua. Dengan demikian, penekanan pada hasil menjadi konsekuensi memenuhi gambaran ideal orangtua. Akibatnya usaha-usaha belajar yang sekiranya akan memberikan hasil nilai yang bagus akan sangat dihargai orangtua. Mengikuti les tambahan, ikut try out ujian, menuntut anak belajar, dst.
Tampaknya pemahaman educare inilah yang terwakili dalam pengertian pendidikan dalam KBBI daring.
Istilah kedua Educere, adalah istilah yang berarti 'untuk mengeluarkan (potensi, kemampuan dan daya upaya, red)'. Pandangan educere ini peduli pada usaha mempersiapkan anak terhadap perubahan-perubahan yang selalu terjadi, memberikan kesempatan pada anak untuk belajar memecahkan masalah-masalah real yang kontekstual (yang belum terjadi dan mungkin bahkan belum diketahui). Dengan demikian, anak diharapkan dalam proses belajarnya banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baik pertanyaan reflektif maupun responsif terkait dengan sebuah masalah. Selain itu anak juga diharapkan memiliki kemandirian dalam berpikir dan berpendapat. Mereka dituntut untuk membangun logika berpikir yang terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan. Satu lagi, karena mereka disiapkan untuk siap di masa depannya, maka proses penciptaan dan kreasi pun tak luput menjadi penekanan.
Nah, kalau semua potensi, kemampuan, keinginan, daya upaya sudah ada dalam diri anak, lalu apa yang perlu dilakukan orangtua, dong? Lalu apa peran orangtua sebagai pendidik?
Jika di atas kita sudah membahas mengenai ide konstruktivistik dari Piaget, maka kita dapat membahasnya dengan ide konstruktivistik yang lain. Piaget percaya bahwa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, kebisaan dapat dibangun dari diri individu anak sendiri.
Vygotsky (seorang psikolog Rusia) menambahkan bahwa ada area yang hanya dapat dicapai, jika anak 'dibantu' oleh orang lain yang lebih paham [more knowledge others]. Area perkembangan optimal (Zone of Proximal Development) anak dapat dicapai jika ada oranglain yang bersedia memberikan pendampingan, pembimbingan, dan penyertaan, terhadap anak.
Lalu apa syarat agar tercapai kemampuan optimal anak pada area ZPD?
MKO atau orang yang lebih paham dapat menerapkan sistem perancahan (scaffolding). Mirip seperti ketika membangun, kita membutuhkan 'bingkai pijakan' tempat bangunan dikerjakan.
Jika pijakan dibutuhkan untuk proses pembangunan, maka sama dengan peran MKO adalah untuk membantu anak membangun sendiri 'bangunan pemahamannya'. Pendidikan semestinya mengutamakan proses yang dilewati anak, ketimbang proses yang dilewati MKO. MKO disini bisa orangtua, bisa guru, bisa teman-teman yang sudah paham. Bukan, bukan untuk mereka semua..
Mari kita lihat kembali definisi pendidikan dari KBBI. Di situ dapat ditinjau bahwa upaya dan usaha pendidikan ditempatkan pada MKO. "...upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik." Dari tinjauan tersebut, kita bisa lihat bahwa definisi ini mengacu pada istilah pendidikan, educare, ketimbang educere; melatih dan membentuk, ketimbang mengeluarkan potensi anak. Meskipun demikian, Bass & Good meyakini perlunya keseimbangan penerapan educare dan educere dalam setiap aspek pendidikan formal anak.
Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah (rasanya) masih belum menjadi tempat belajar yang ideal. Para pendidik di sekolah masih berkutat pada bagaimana meningkatkan nilai-nilai ataupun kecepatan studi ketimbang memperhatikan pada proses educere. Sejarah sudah begitu banyak menunjukkan bahwa banyak dari orang sukses yang berhasil di masa tua padahal tidak berhasil di sekolahnya. Sebut saja Isaac Newton (penemu), Albert Einstein (ilmuwan), Michael Jordan (atlet Basket), Oprah Winfrey (pembawa acara), Walt Disney (pembangun brand Disney), Steve Jobs (pendiri Apple & Pixar), atau dari dalam negeri Bob Sadino (pengusaha),
Jika begitu banyak orang sukses yang gagal di sekolah, jangan-jangan sekolah yang tidak mampu melihat kelebihan orang-orang ini. Bisa dipahami karena memang konsep educare yang menjadi pegangan institusi pendidikan formal saat ini.
Saya bukannya anti sekolah. Sama sekali tidak. Tentu saja tidak. Saya adalah bagian dari hasil pendidikan saya di sekolah. Hanya saja, pendidikan anak, menjadi prioritas saya sebagai orangtua, Filosofi pendidikan dalam keluarga seperti apa yang sekiranya akan mengeluarkan potensi terbaiknya. Dengan demikian, artinya konsep educere menjadi kiblat saya.
Bass & Good (2004) menjelaskan dalam artikelnya bahwa anak yang bersekolah hanya untuk lulus tes tidak betul-betul siap menghadapi tantangan perubahan dunia. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa keseimbangan peran educare dan educere sangat penting. Peran guru sebagai fasilitator bagi terjadinya proses belajar anak di sekolah perlu diberikan peran dan kebebasan yang cukup. Perubahan mindset dari mementingkan nilai menjadi mementingkan proses belajar perlu ditumbukan dalam diri guru.
Idealnya seluruh stakeholder pendidikan dan proses belajar anak ikut serta terlibat. Maka, selain perubahan dalam intitusi sekolah dan guru, mindset ini pun perlu dimiliki oleh institusi keluarga dan orangtua sebagai lembaga pendidikan non-formal. Orangtua perlu memahami bagaimana anaknya belajar, apa yang disukai anak, apa yang diminati dan menjadi bakatnya.
Untuk dapat menyeimbangkan peran kedua konsep education, maka dibutuhkan keterbukaan. Komunikasi dan pemahaman mengenai apa yang sedang dipelajari anak dapat menyumbang pada terjadinya keseimbangan. Selama anak tidak diberikan porsi mengambil keputusan, memilih, menimbang, menguji coba, coba salah, coba berhasil, coba gagal, coba lagi, coba lagi, maka proses belajar (sejatinya) tidak terjadi.
***
Referensi:
Bass, R.V & Good, J.W. (2004). Educare and Educere: Is a Balance Possible in the Educational System? Educational Forum, The, Vol.68; No.2; p161-168; Winter 2004. (retrieved: https://eric.ed.gov/?id=EJ724880, May 2017)
Langganan:
Postingan (Atom)
Article: Mari Bicara Stres
Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'. Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada ...
-
Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar ...
