Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

Article: Samatha Center

Balance - Center - Calm - Clear

Body - Mind - Soul















Who We Are   How We Can Help   F.A.Q   Articles   Free Guide   Contact   Login

Who We Are

Samatha Center is the center to help you get back to balance from everyday stress life. We're living in the world that we perceived as stressfull. While actually we are living in era which joy and comfortable life is so easy to be found. Yet, we lack of time and energy to enjoy all of that. 

JOIN THE TRIBE to connect with your tribe. To develop together, to learn, to feel, to be connected, to support and being supported. 



Our goal is to educate as much people in the society so that we can have more people who are calmer, balance and centered. This will help the world to be better to live in. 


How We Can Help

We help you connect. Connect with yourself, with the very core of our own existence. We connect you to the resources, education, therapies, communities support to support your need to be able to highly function in the daily basis.


Therapy   Practice   Assessment   Learn   Connect

Our program combines multiple methods to help build the connection of the nervous system. We combines our yearly practices and research to become a program that will serve you ends meet with practical and reliable tools. 

We understand sometimes, we feel alone with our own problems. The world is so big and we are so small. This is why we offer hands for you to reach. 


Overwhelmed? 
Have you tried all the techniques but nothing seems work? We provide the program which including you to empower you, educate you so you have tools and strategies to deal with your own problems. 
We educate you to understand the roots of the problems, and we provide you with tools and strategies that you can use to deal with problems you've encounter.


Stop Thinking (Start Moving)
In Samatha Center we provide movement program to help you deal with the overthinking. 
Do you know that our body stored the emotions we experience. If fear is your default emotions, the body stored the fear and send the signals to the brain, so then we keep perceiveing the environment as a dangerous place. 
So one of the effective technique is to let the physical body to let the fear go, then the mind can be function for our development. 


Learn How You can Change
We help you aware with the old pattern that no longer serves you. We help you using various methods which include changing the mind by connecting our neurological brain pathways, use and move the body with building the awareness of our physical body, and aware with the behavior we ussually showed. 
Brain/ Mind     Body     Behavior



2010-2020



Sabtu, 09 Desember 2017

Suara Batin

Masih sangat berkaitan dengan post sebelumnya mengenai keberanian dan ketakutan. Ternyata, artikel ini sudah tertulis kurang lebih 10 tahun yang lalu ketika usia masih kepala 3... hahaaaa, bayangkan betapa saya adalah pembelajar yang lamban. 
Tapi tak apa.. lebih baik lamban dan terus berjalan, ketimbang sudah puas dan berhenti.. (hahaaa, another Rationalization or Self Deception).

Anyway, judul asli artikel ini adalah Stillness Speak, terinspirasi judul bukunya Master Eckhart. Meskipun begitu, setelah dibaca-baca, rasanya lebih pas dengan judul baru "Suara Batin".

...

Diri yang kita kenali saat ini, Ego, justru membatasi kita dari ‘menjadi’ (Being) diri kita sendiri. Tidak percaya?
Untuk bisa ‘menjadi’ (Being) kita perlu sadar kalau kita 'di sini - saat ini'. Dengan demikian, kita perlu menanggalkan apapun yang mengganggu kesadaran kita 'di sini - saat ini'. Apa yang kita pikirkan, apa pengalaman dan apa kata orang tidaklah penting bagi kita menjadi diri kita. Sebaliknya, kita perlu lebih banyak merasakan. Merasakan sensasi indera yang muncul pada saat ini di tempat ini. 

Maka dengan demikian, Lupakan apa saja yang terlintas dalam pikiran kita, ‘apakah ini pantas?’, ‘apakah orang lain akan menangkap ini sebagai sesuatu yang baik?’, ‘apakah kita pantas merasakan ini?’, ‘apa yang orang lain pikirkan mengenai aku jika aku melakukan ini?’ dst. 

Saat ini Aku sedang mencoba melakukan terapi terhadap diri sendiri (eaaa kayak psikoterapist handal aja.. hehehe.. padahal jargonnya Psikologi untuk Anda bukan untuk saya). 

Iya..setelah 30 tahun lebih berlalu usiaku, baru aku sadar (jadi selama ini pingsan..) kalo Aku orang yang ‘tidak bebas’. Selalu ada ketakutan yang menyertaiku di setiap pagi (hhhh…bangun sekarang apa nanti aja ya?), di setiap pemilihan baju (pake baju ini keliatan gemuk, pake baju ini apalagi, terus pake baju yang ini udah gak muat..hehehe jadi emang gendut), di setiap langkah (pake kaki kanan atau kiri yaa?), di setiap belokan (belok kanan apa kiri, atau terus aja??), di setiap perhentian (di sini aja atau agak ke sana dikit ya?), pokoknya hampir di setiap proses pengambilan keputusan aku selalu merasa takut. Segala jenis rasa takut, mulai dari takut malu, takut mengecewakan orang lain, takut tidak punya teman, takut dianggap bodoh, takut dianggap tidak kompeten, takut dianggap tidak pantas, dan takut-takut yang lain.

Semakin hari, aku merasa perasaan takut ini sudah pada taraf mengganggu kestabilan emosi dan kepribadianku. Aku menjadi orang yang semakin jauh dari diriku yang sebenarnya karena rasa takut ini. Padahal kalau Aku ingat, ketika kecil, Aku adalah anak yang cukup ’berani’. Sering mengikuti lomba-lomba yang memberikan cukup banyak penghargaan. Mulai dari lomba menyanyi, membaca puisi, deklamasi, menari bahkan terakhir mendapat juara III membaca berita dari lomba presenter yang diselenggarakan oleh salah satu televisi swasta di Jakarta.

Lalu kenapa sekarang aku menjadi seperti sekarang?
Cenderung menarik diri, jarang mengeluarkan pendapat pribadi, menghindari konflik, takut muncul di depan umum, menghindari tugas-tugas yang akan memaksa berada di depan layar, lebih banyak memutuskan arus pembicaraan karena tidak tahu mau mengatakan apa, dst. 
Di usiaku 30 tahun, belum ada pencerahan (cieilee..bahasa Zen-nya: enlightening). [Di usiaku 41 tahun (2017), beberapa sedang dengan sadar kuatasi.] 

Eckhart Tolle (Stillness Speaks)  mengatakan: “You can value and care for things but whenever you get attached to them, you will know, that’s the ego. Whenever you accept the loss, you go beyond ego, and ‘I am’ emerges as it is consciously. Sometimes, let things go, is an act far greater power than defending or hanging on”.

"Menjaga dan merawat tidak sama dengan terikat dengan barang milik. Itu ego. Jika hilang, atau rusak, atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita mengarah melampaui ego, terutama jika 'itu saya' muncul dengan sadar. Terkadang membiarkan sesuatu berlalu lebih membutuhkan kekuatan ketimbang memegang atau menjaga dengan erat." 


Ketika kita kehilangan sebuah barang yang menurut kita sangat berharga,
Bagaimanakah perasaan kita? Sedih..? Kecewa..? Galau..?
Kemudian apa yang kita lakukan? Mencari siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kehilangan tersebut..? Meninggalkan aktivitas apapun yang kita sedang kerjakan, atau paling tidak, kita tidak lagi berkonsentrasi terhadap aktivitas tersebut..?

Sekedar pertanyaan reflektif buat kita
’Apakah kita menjadi kita ‘yang kurang’ kalau barang tersebut tidak lagi bersama kita?’
’Apakah kemudian kita menjadi identik dengan barang tersebut?’

Jika aku bertanya, bagaimana perasaanmu ketika barang yang kamu sayangi hilang?
Pasti jawabannya adalah perasaan kehilangan yang tidak nyaman dan kadang-kadang bahkan sangat sentimentil terutama jika barang tersebut memiliki kelekatan emosional.
Sekarang bayangkan jika sesuatu yang melekat adalah harga diri kita. Jika kita dipermalukan, apakah itu mempengaruhi cara pandang kita? Jika kita mengecewakan orang lain, dan orang tersebut tidak lagi mau berteman dengan kita, apakah itu mempengaruhi harga diri kita? Jika kita dianggap tidak pantas dan dianggap bodoh, apakah itu mempengaruhi harga diri kita?
Apakah harga diri kita dipengaruhi oleh sesuatu yang ditentukan oleh orang-orang lain di luar diri kita?
Hal-hal itulah yang menimbulkan ketakutan pada diriku, intinya adalah Aku takut kehilangan rasa keberhargaan diri.

Tapi betulkah harga diri adalah sesuatu yang dimiliki? Sehingga kita amat takut kehilangan?
Harga diri atau ’Self Esteem’ menurut Maslow merupakan kebutuhan manusia yang menempati posisi keempat dalam bangunan hierarkinya. Ini menunjukkan bahwa inilah kebutuhan manusia yang cukup tinggi setelah kebutuhannya akan rasa aman dan rasa cinta. Tetapi kembali pertanyaan yang sama: ”Betulkah kita sudah memiliki harga diri?”
Sederhananya begini, kebutuhan dasar menurut Maslow adalah kebutuhan fisik. Jika kita sudah mendapatkan makanan apakah kemudian kita sudah bebas akan kebutuhan ini? Tentu saja tidak. Hari ini mungkin kita tidak lagi butuh makan, karena kita sudah makan. Tetapi besok hari, kebutuhan ini akan muncul lagi, begitu juga dengan keesokan harinya lagi. Kita tidak pernah betul-betul memenuhi kebutuhan kita akan makan. Padahal kebutuhan ini adalah kebutuhan paling dasar, apakah kemudian kita tidak maju-maju dan menginjak pada level kebutuhan kita yang berikutnya yaitu rasa aman? Dan bagaimana dengan cinta? Apakah kita betul-betul tidak pernah memiliki cinta?

Saya mencintai kamu. Kata ‘cinta’ disini merupakan kata kerja yang menunjukkan bahwa saya mau melakukan cinta terhadap kamu. Maka cinta di sini bukanlah dimiliki melainkan dilakukan. Kata cinta itu sendiri juga memiliki banyak konsekwensi dari keluarnya statement ini. Aku mencintai kamu, berarti aku mau melakukan..., ...., ... .

Salah kaprahnya adalah banyak orang menganggap bahwa cinta adalah perasaan yang dimiliki seseorang. Inilah yang kemudian membuat banyak orang merasa sakit ketika orang yang dicintainya pergi, ketika ia dikhianati, ketika ia kehilangan apa yang dianggapnya sebagai cinta. Apa yang salah jika orang yang kita cintai ternyata lebih menyintai orang lain? Apakah kemudian kita tidak bisa lagi menyintainya? Tentu tidak. Kita masih tetap dapat melakukan banyak hal sebagai wujud cinta kita terhadapnya.
Tetapi kemudian kita berpikir, “tetapi aku tidak akan mendapatkan dirinya, lantas buat apa?”
Itu berarti bukan lagi cinta, melainkan ego yang berbicara. Aku cinta dia, agar diapun menyintai saya. Saya mau melakukan banyak hal untuknya sebagai wujud cinta saya, agar saya juga mendapatkan banyak hal sebagai gantinya. Bukankah ini hanyalah ajang perdagangan yang memperdagangkan cinta?

Ego tidak salah, tetapi sering tidak kita sadari. Ego mengidentikkan diri dengan kepemilikan. Jika kita memiliki banyak maka tanpa sadar Ego kita pun semakin besar. Jika kita tidak menyadari perilaku dan sikap kita maka kita bukanlah diri kita sepenuhnya.

The Joy of Being – Nikmatnya menjadi Diri Sendiri
Suatu saat ketika sedang merasakan sesuatu, tanyakan kepada diri kita apakah kita memang benar-benar merasakan apa yang kita rasakan, 
atau sebetulnya itu adalah apa yang kita pikirkan.

Jika kita pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengan seseorang pada masa lalu kita, seringkali muncul ’perasaan suka atau tidak suka’ terhadap orang tersebut. Padahal kita baru saja bertemu dengan orang ini. Terkadang bahkan kita tidak tahu alasan kita memiliki ‘perasaan’ tersebut. Coba perhatikan bahwa aku memberi tanda petik pada kata perasaan, karena sebetulnya itu bukanlah suara perasaan. Itu adalah suara pikiran kita. Kita seringkali tanpa sadar melekatkan pengalaman pribadi kita pada situasi atau orang tertentu. Orang yang baru saja kita temui ini mirip dengan seseorang yang memberikan pengalaman menyenangkan, maka kemudian tanpa sadar kita memberinya ’label’ bahwa orang ini adalah orang yang menyenangkan. Tanpa kita sadari bahwa yang kita sukai adalah apa yang kita pikirkan mengenai penampilan orang ini.

Hal yang sama juga terjadi jika orang yang baru ini mirip dengan seseorang yang dulunya pernah sangat menyakiti perasaan kita. Coba perhatikan bahwa tanpa sadar kita menempatkan perasaan sakit hati kita pada orang ini. Kita menjadi seolah-olah merasa bahwa ia betul-betul adalah orang yang tidak menyenangkan. Kasihan sekali bukan? Hanya karena ia mirip, bukan berarti ia sama dengan orang di masa lalu kita.
Ketika kita berpikiran bahwa dia adalah orang yang tidak menyenangkan, hal itu membuat kita berperilaku seperti kepada orang yang tidak kita sukai, alias perilaku yang tidak menyenangkan, maka orang tersebut pun akan bereaksi demikian, dan begitu seterusnya, kita betul-betul meyakini bahwa orang ini adalah betul-betul orang yang tidak menyenangkan.

Wow..Dan kita bersyukur bahwa kita merasa memiliki intuisi yang tajam yang mengetahui secara persis mengenai sifat dan sikap orang ’baru’ ini. Panjang sekali bukan perjalanan hubungan ini, tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya yang kita rasa, bukan betul-betul yang kita rasa melainkan apa yang sebetulnya kita pikirkan.

Maka mulai sekarang menjadi sadarlah, Lia.
Sadari bahwa semua perasaan takutmu bukanlah ketakutanmu, melainkan ketakutan egomu.
Kamu tetaplah akan menjadi seorang Lia, dengan ataupun tanpa kekhawatiran-kekhawatiran itu. Selanjutnya, biarlah mengalir dan terbukalah pada segala kemungkinan yang terjadi.
Bangunlah, ketika kamu memang perlu bangun untuk melakukan aktivitas yang kamu pilih untuk lakukan.
Pilihlah baju yang akan membuat kamu nyaman dan percaya diri.
Berbeloklah ketika kamu memang mau pergi ke suatu tempat di salah satu ruas jalan.
Berhentilah ketika kamu lelah.


Intinya, mengalirlah dan menjadi merdekalah. 

#catatan_akhir_tahun_saiasilia_2017


***

Jumat, 08 Desember 2017

2017, menuju 2018

Haloo, apa kabar tahun 2017?
Tidak terasa sudah (hampir) satu tahun, dua belas bulan, 54 minggu, 366 hari sudah (hampir) terlewati.
Tinggal sisa 3 minggu lagi, atau 21 hari lagi menjelang tahun yang baru.

Saya bukan tipe orang yang senang membuat resolusi. Tetapi tahun ini rasanya saya perlu sedikit menoleh ke belakang untuk mengevaluasi dan belajar untuk perkembangan diri saya pribadi di tahun yang akan datang.

Peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di tahun 2017? Yuk, mari kita lihat kembali.

Ternyata, setelah saya mengintip dapur blog ini, tulisan pertama di tahun 2017 adalah di bulan April, tepatnya tanggal 22. Hehee, ini mah sudah hampir masuk di bulan ke-lima. Itupun masih dalam bentuk draft karena belum di-publish 😉 hihiii, ini kebiasaan buruk saya memang. Banyak menulis, tidak ada yang dipublish. Bukan karena tidak selesai, lebih karena tidak PD. Penyakit.
Tapi baiklah, setelah saya sadari, saya terima, maka saatnya saya menikmati dan syukuri. #sadarisyukurinikmati

Oh, tapi ada tulisan yang mengangkat refleksi tahun 2016. (lihat di sini)

Oke, mari kita membuat sub-judul yang sama, agar terasa aliran idenya.

1. Sepuluh (10) Hal yang perlu disyukuri tahun 2017 
- Semakin mantap dengan karir yang sedang dijalani. Menjadi psikolog, therapist, trainer, facilitator, counselor, meditator, kinesiolog.
- Semakin banyak keterampilan dan perkembangan profesional yang dirasakan baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain.
- Semakin banyak kesempatan terbuka untuk perkembangan dan pengembangan personal maupun profesional.
- Rejeki makin mengalir dari banyak pintu di semua arah (#eciee..)
- Keluarga sehat semua. Atha sudah umur 5 tahun, Papa sehat (meskipun masih terpisah jarak), Eyang sehat di Malang, Mama sehat (meskipun perlu ada beberapa penyesuaian terkait penyerapan energi ketika praktik), Umi juga baik-baik saja. Puji Tuhan.
- Uang pendidikan di Asuransi Pendidikan sudah keluar untuk anak masuk SMA. Hahaaa... ini ada ceritanya, ketika saya masih single (dan sedang jomblo), tidak punya pacar, tapi sok yakin ikutan asuransi pendidikan anak. Ya begini jadinya, anak sendiri masih umur 5 tahun, tapi asuransi pendidikan sudah untuk memasukkan anak di tingkat pendidikan SMA. 😆
- Beberapa tagihan cicilan (yang terbesar) akhirnya lunasss... Puji Tuhan. Starting to earn more money from the money I have now. 👌👍👊💞∞⧝
- Beberapa terapi yang pernah saya jalani, mulai terasa manfaatnya sekarang. (the energy flow which help me allign with the Source. Make me easier to deal with frustration, able to forgive, start to have my personal voice, starting to feel the energy of creation, being steady on the ground). Thank you.. Thank you.. Thank you..
- Some of the professional courses I have been participating in and practicing it in my own cases, start to be able to be shared. For example: How to live mindful, How to be centered and balanced, How to integrate body in learning.
- Buku suami terbit (Penelitian Fenomenologis), hahaaa.. bukan hasil karyaku tapi, paling tidak ada andilku-lah sebagai isteri yang siap dicuekin kalau pas beliaunya lagi menulis... itu kan bisa dibilang kontribusi juga tho. Paling tidak keluarga La Kahija mensyukuri ini. PUJI TUHAN.

2. Pengalaman luar biasa di tahun 2017
Tahun 2017 ini pertama kalinya aku mulai mengajarkan kelas meditasi dan ini kelas sharing berbayar. Baiklah, ayo kita mulai serius belajar dan mengorganisir-nya.

3. Pembelajaran/ Hikmah sepanjang tahun 2017
Bulan September dan Oktober merupakan bulan kesehatan mental. Dimulai di tanggal 10 September Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia (World Suicide Prevention Day), sampai Hari Kesehatan Mental Sedunia di tanggal 10 Oktober.
Tahun ini, sengaja membuat janji dalam diri untuk mulai mengkampanyekan pentingnya kesehatan mental di dalam Sosial Media pribadi. Jadi selama 30 hari, iG: @saiasilia menuliskan artikel singkat mengenai pentingnya memberi perhatian lebih pada kesehatan mental. Belum apa-apa sih dibandingkan banyak orang lain, tapi ini merupakan kemenangan pribadi buat saya. Buat orang introvert yang tidak terlalu nyaman dan tidak terlalu suka mengumbar hasil pikiran, hasil refleksi pribadi ke ranah publik, yang sudah saya lakukan cukup membanggakan (sekali lagi ya, ini untuk saya pribadi... yippiiii, prok prok prok Good Job 👌✌).

4. Tantangan 2016 yang sudah terlampaui di tahun 2017?
Pindah rumah? 
Resign dari kantor?
Kerja dari rumah?
Punya bisnis baru? (👌✓)

Dari empat hal di atas, yang sudah dijalankan baru no.4, "Punya bisnis baru." Iya, tahun 2017 moment Samatha Center akan re-launching. Semoga dapat terus jalan yah. Bisa berbagi, bisa memberikan kontribusi untuk sekitar dan masyarakat. Semoga, amin.

5. Tantangan/ Target Pencapaian untuk 2018?
Jika tahun 2016 adalah Tahun Pangilan bagiku,
maka tahun 2017 adalah Tahun Penjajagan.
dan tahun 2018 ingin kujadikan sebagai Tahun Kriya, atau Tahun Berkarya.
Aku ingin bisa memaksimalkan apa yang bisa aku buat, apa yang bisa aku lakukan, apa yang bisa aku sumbangkan, apa yang dapat aku tinggalkan untuk kebaikan dunia, sebelum aku dipanggil kembali. Sebelum masa tugasku berakhir 💫😉.

Catatan akhir tahun 2018 yang saya inginkan adalah kegiatan apa saja yang sudah saya lakukan.
Training? Fasilitasi? Meditasi? MBL? Mindfulnes?
Konseling?
Konsultasi Psikologis?
Movement Based Learning?
Samatha Center? Rumah Samatha? Samatha Press?

Touch For Healing?
Shiatsu?
Dua kegiatan ini pingin saya pelajari dan kembangkan menjadi salah satu layanan.


***

Dec 2017 (3 minggu menjelang pergantian tahun)


***

Sabtu, 22 April 2017

Refleksi tahun 2016

Meskipun tahun 2017 sudah masuk di bulan ke-4 bahkan hampir tengah tahun, tidak ada salahnya untuk mulai kembali #menghitung_berkat (#count_blessings) yang sudah didapat sepanjang tahun 2016. 

1. 10 hal yang perlu disyukuri tahun lalu

Keluarga Sehat (buktinya jatah medical reimbursement masih banyaak, Puji Tuhan), Bisa jalan-jalan keluarga dengan selamat dan menyenangkan, keajaiban-keajaiban sepanjang jalan mudik 2016 (cerita lengkap di bagian lain), Atha sehat dan makin membaik reaksi alerginya, pintu rejeki terbuka lebar, Rumah Gedawang selesai renovasi dan semoga membawa berkah, kembali berkutat dengan bidang yang disukai, masih punya energi, rejeki dan semangat untuk belajar.

2. Pengalaman luar biasa di tahun 2016

Tahun 2016 bulan Januari lalu persis di tahun baru, Keluarga La Kahija akhirnya mengadakan acara syukuran selesainya pembangunan rumah di Gedawang-Semarang. 
Pembangunan rumah berlangsung selama kurang lebih satu tahun sejak November 2014. Begitu banyak 'cerita' selama pembangunan rumah. Dimulai dari tukang yang harus berganti sampai 3 kali, budget yang membengkak, dan pertimbangan-pertimbangan yang muncul on-the-spot di luar rencana tapi justru membawa berkah. 
Rumah ini ingin kami jadikan sebagai rumah sehat, atau rumah yang mampu memberikan efek healing untuk siapapun yang datang. Amin, semoga direstui Gusti. 




3. Pengalaman kurang menyenangkan di 2016

Adalah waktu dimana rasanya, sakit hatiii banget ketika dibohongi salah satu karyawan yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. 
Tapi sudahlah, semua orang punya 'paket'annya sendiri-sendiri. Setiap orang punya PRnya sendiri. Mungkin PR saya ya itu.. 

4. Pembelajaran
Tahun 2016 merupakan tahun #Panggilan_Pribadi (#my_true_calling). Saya seperti dikembalikan kepada niat awal belajar psikologi. Terimakasih kepada salah satu #mantanboskesayangan yang sudah membuka kesempatan baru ini buat saya. Peluang ini bukan saja memberikan saya excitement baru, tetapi juga mengembalikan saya pada alasan saya hidup.
Masih banyak yang harus kembali saya pelajari. Tidak apa, selama semangat saya masih meluap dan berlimpah. Karena saya yakin, yang saya lakukan menjadi kontribusi saya dan ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi saya dan orang-orang di sekitar saya. 

5. Tantangan di tahun baru (Tahun 2017)
Pindah rumah? 
Resign dari kantor?
Kerja dari rumah?
Punya bisnis baru?

Image result for the hardest step is the first one


Semoga next chapter, udah bisa buat timeline yang pasti terkait dengan tantangan-tantangan baru itu. 


***



Rabu, 07 September 2016

Tempat Sampah

Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar dan terlibat dengan kegiatan akademik seperti pengajaran, penelitian, dan pelayanan terhadap masyarakat.

Student Counselor atau Konselor mahasiswa, itu judulnya. Job desc-nya mirip dengan 'tempat sampah'. Kok tempat sampah? jelek banget permisalannya.. yah emang begitu.
Coba.. tempat, tempat apa yang dibutuhkan untuk membuang sesuatu yang jelek, dan mengganggu? Dibutuhkan tetapi sering tidak diingat kalau ada..? yaa... itulah Tempat sampah!
Boro-boro dirawat dan dijaga, seringkali malah jadi mirip sama isinya.. ya sampah.

Nah, berhubung itu yang disadari oleh kami para konselor. Makdarit, kami berusaha menjaga diri. Menjaga diri dengan hidup bersih. Bersih dari aura negatif yang seringkali terbawa oleh klien-klien kami. Transfer energi sebetulnya adalah hal yang wajar di dalam setiap relasi. Namun, lain lagi ketika relasi yang terbentuk bertemakan energi-energi negatif seperti amarah, kesedihan, kekecewaan, trauma, ketakutan. Tema-tema inilah yang biasanya mewarnai ruang konseling.

Pada saat kami memutuskan untuk bersedia menjadi 'tempat sampah', maka kami pun sudah perlu menyiapkan diri dengan segala konsekwensi ini.
Banyak yang merasa menjadi tempat curhatan orang itu mudah. Kan tinggal mendengarkan orang bercerita. Betul.
Saya sering kok, dimintai pendapat teman-teman saya. Mereka sering curhat ke saya dan minta nasihat saya.
Nah itu dia bedanya.
Bapak client-centered therapy, om Carl Rogers mengatakan bahwa setiap kita memiliki kapasitas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi dengan demikian buat apa tanya pendapat orang lain. Mereka sudah tahu. Mereka sudah paham. Tidak perlu lagi dinasihati dan diberi wejangan yang panjang kali lebar dan terasa membosankan. Tidak.. bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka hanya butuh katarsis. Mereka butuh mengeluarkan gejolak, percikan emosi yang pada saat itu menutupi mata dan kesadaran mereka sendiri.
Begitu kita konselornya mampu berperan seperti cermin yang jernih. Mampu merefleksikan gambaran real diri mereka sendiri, maka tanpa ada kesulitan, insight akan mereka peroleh sendiri. Pemahaman terhadap pemecahan masalah yang saat itu terasa berat akan jelas muncul di kepala mereka.

Penerimaan. Itu kuncinya kata om Rogers. Jika kita mampu menunjukkan sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional acceptance) maka klien akan mendapatkan pemahaman penuh mengenai diri mereka sendiri. Jalan keluarnya pun akan mereka peroleh sendiri. Mudah bukan...

Bukan!

Itu proses yang sama sekali tidak mudah. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses ini seringkali memberikan rasa tidak nyaman, dapat muncul juga perasaan sakit hati karena penolakan yang selama ini sering diperoleh dari sekitar. Sudah sedemikian biasanya kita dengan rasa sakit dan tidak nyaman yang selama ini lebih sering kita rasakan, sehingga ketika proses konseling memberikan pencerahan dan release yang tidak biasa mereka alami, biasanya mereka akan kembali lagi kepada pola-pola lama yang biasa mereka dapatkan, yaitu penolakan dan ketidaknyamanan. Bukan karena tidak ingin terlepas, melainkan karena kondisi inilah yang paling mereka kenal.

Salah satu metafora yang sering saya gunakan untuk menunjukkan pengenalan terhadap diri sendiri yaitu proses pengenalan diri ibarat mengupas dan mengupas bawang bombay, satu lapis ke lapisan lebih dalam lagi memberikan kita bukannya rasa nyaman dan enak melainkan rasa pedih dan pedas di mata dan hidung. Seperti itu pulalah proses pengenalan diri.
Ego kita sudah sedemikian tebalnya sehingga ketika kita mengupas bawang bombay untuk mendapatkan intisari siapa diri kita sesungguhnya rasanya berat dan menyakitkan.

Tetapi percayalah, proses yang terasa tidak mengenakkan ini sesungguhnya sangat membantu kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan yang selama ini dikatakan ayah ibu kita, bukan pula yang dikenal teman-teman kita, bukan juga yang dilihat guru kita di sekolah. Bukan seperti itu. Carilah lebih dalam siapa dirimu.

Virginia Satir seorang psikolog keluarga mengatakan bahwa dirimu bukanlah definisi yang dibuat orang-orang atas kamu.

So, define yourself. Who are you?

Rabu, 10 September 2014

Best Friend

Tonight, I've watched an episode of a television program named "Chick Fix". Actually, this is the second episode I've seen. There are some of the girls who had a problems with their life and gathered to share and hope to find a way out of their problem back home. The first night's meant to be used a sharing moment. They will have a lot of time to chat and open their shell for other to see. From this discussion, they will finally see (if not by other, or themselves) what is the core of their problem.

After this, they will have their homework to do while they're going back to where they are. The homework is something like a commitment to do in order to get out from their things.

What I think from this TV program is something we can do as long as we have a good friend of ours. They actually do things which best-ies are doing. They listen to what's bothering you, they give some advices, they even know your family background, they know what you like, what you don't like.

What I am saying is, find your best friend. Be a good friend, so that you don't need to get into a TV program just to get someone to listen to you. If you need a professional, get some. You will be surprise by how much you've been get until you lost it.


***
glad I have some good friends in you

Article: Mari Bicara Stres

Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'.  Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada ...