Tampilkan postingan dengan label counseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label counseling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 November 2019

Article: Mari Bicara Stres

Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'. Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada 'zat' yang dianggap membahayakan tubuh, maka tubuh akan menghasilkan hormon cortisol dan adrenalin untuk membantu mengatasi zat tersebut. Saat sudah terlewati kondisi tersebut, maka produksi cortisol dan adrenalin menurun sehingga tubuh kembali ke kondisi normal. 

Sistem syaraf yang bekerja saat kita berada dalam kondisi stres pun mengakibatkan perubahan-perubahan fisiologis, salah satunya adalah pada pola napas. Perubahan ini mengakibatkan kita mengalami perubahan cara pandang terhadap lingkungan sekitar kita. 

Tetapi ini bukan berarti stres adalah merupakan hal yang buruk. Stres yang berakibat buruk disebut distres sedangkan yang berdampak baik disebut eustres. Stres yang baik, misalnya saat kita jatuh dan terluka, maka tubuh akan mengalami stres karena mengatasi kuman yang masuk ke dalam tubuh. Atau saat kita stres sedang menghadapi presentasi. Stres tersebut membuat kita memikirkan strategi atau kemungkinan pertanyaan yang muncul saat presentasi, sehingga kita justru melakukan persiapan yang cukup dan memadai. 
Stres menyebabkan kita beradaptasi dan berkembang. 

Masalah utama bukan pada Stres, melainkan jika stres menjadi kronis. Kondisi tubuh berada dalam stres berkepanjangan ini yang menjadi masalah utama. Ini artinya tubuh tidak memiliki waktu untuk pulih kembali kepada situasi yang normal. 

Kita perlu memiliki strategi dan instrumen yang tepat untuk membantu kita mengelola stres. Namun begitu, masih banyak yang belum tahu apa yang harus dilakukan jika mengalami stres. 

Berikut ini akan diberikan tips-tips yang dapat menjadi alternatif untuk mengatasi stres. 

Saat sudah mengetahui tips berikut, disarankan untuk melatih dan melakukannya saat tidak sedang stres, agar badan mulai terbiasa menjadikan ini sebagai bagian dari praktik self-care. 

Kelola Stres dari Tubuh.
1. Grounding.
Agak sulit mencari padanan kata 'grounding' dengan istilah dalam bahasa Indonesia. Pada intinya step pertama ini adalah bagaimana kita menjaga keseimbangan dengan mengembalikan kesadaran pada tubuh. Seringkali saat stres, pikiran yang lebih dominan. Itu sebabnya banyak yang menjadi 'overthinking' saat sedang stres. 

2. Breathwork 
Saat sedang stres, tubuh kita mengaktifkan sistem syaraf sympatik yang membantu kita mengatasi kondisi yang kita anggap membahayakan. 
Jika memang ada dalam bahaya yang real, tentu saja reaksi ini tepat. Namun, seringkali tidak demikian. Situasinya saja yang dianggap membahayakan padahal secara real tidak demikian. Contohnya, menghadapi ujian. Banyak siswa bahkan orangtua yang menganggap ujian sebagai situasi yang sangat urgent, bahkan bisa disetarakan dengan situasi hidup atau mati. Ini kan kurang tepat. 

Bernapas, membuat kita relaks. Saat relaks, sistem syaraf yang aktif adalah parasympatik. Sistem saraf parasympatik ini mengakibatkan tubuh siap mencerna dan mengolah informasi. Itu sebabnya, saat ujian, semestinya siswa berada dalam kondisi yang tenang agar pikiran jernih dan dapat mengerjakan soal dengan lebih optimal.

3. Meditasi
Meditasi bukanlah praktik keagamaan suatu keyakinan tertentu. Meskipun meditasi merupakan sikap yang umum dipraktikkan saat sedang beribadah. Sikap menerima, tenang dan pasrah merupakan sikap yang dominan dalam praktik meditasi. 
Sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa meditasi memberikan dampak positif terhadap pengelolaan stres.

4. Nutrisi
Pilihan makanan yang bernutrisi membantu kita mampu mengatasi stres lebih mudah. Saat kita makan dengan mindful dan sadar, kita dapat makan untuk kebutuhan fisik bertumbuh dan berkembang. Banyak dari kita makan untuk membantu menekan rasa tegang, rasa cemas, rasa 'kurang' yang kerap muncul saat stres. 
Ini yang disebut sebagai 'Emotional Eating', makan karena emosi. Saat stres, kita akan cenderung makan secara berlebihan, atau sama sekali tidak mau makan. Atau kita cenderung memilih makanan yang manis-manis dengan kadar gula tinggi untuk memberi rasa bersemangat. 

5. Tidur 
Kualitas tidur perlu diperhatikan. Bangun rutinitas tidur yang nyaman dengan bau-bauan dan lampu yang digelapkan. Kondisi ini dapat membantu kita siap untuk beristirahat. 
Tidur dibutuhkan, karena saat tidur, tubuh kita memperbaiki dirinya sendiri. 

6. Sinar Matahari 
Sinar matahari memberikan banyak sekali vitamin yang dapat memboosting vitalitas dan energi kita. 
Sehingga disarankan untuk tubuh kita merasakan sinar matahari pagi mengenai sensori di tubuh untuk membantu mengatasi stres. 

Happy Healing,

Senin, 04 November 2019

Article: Samatha Center

Balance - Center - Calm - Clear

Body - Mind - Soul















Who We Are   How We Can Help   F.A.Q   Articles   Free Guide   Contact   Login

Who We Are

Samatha Center is the center to help you get back to balance from everyday stress life. We're living in the world that we perceived as stressfull. While actually we are living in era which joy and comfortable life is so easy to be found. Yet, we lack of time and energy to enjoy all of that. 

JOIN THE TRIBE to connect with your tribe. To develop together, to learn, to feel, to be connected, to support and being supported. 



Our goal is to educate as much people in the society so that we can have more people who are calmer, balance and centered. This will help the world to be better to live in. 


How We Can Help

We help you connect. Connect with yourself, with the very core of our own existence. We connect you to the resources, education, therapies, communities support to support your need to be able to highly function in the daily basis.


Therapy   Practice   Assessment   Learn   Connect

Our program combines multiple methods to help build the connection of the nervous system. We combines our yearly practices and research to become a program that will serve you ends meet with practical and reliable tools. 

We understand sometimes, we feel alone with our own problems. The world is so big and we are so small. This is why we offer hands for you to reach. 


Overwhelmed? 
Have you tried all the techniques but nothing seems work? We provide the program which including you to empower you, educate you so you have tools and strategies to deal with your own problems. 
We educate you to understand the roots of the problems, and we provide you with tools and strategies that you can use to deal with problems you've encounter.


Stop Thinking (Start Moving)
In Samatha Center we provide movement program to help you deal with the overthinking. 
Do you know that our body stored the emotions we experience. If fear is your default emotions, the body stored the fear and send the signals to the brain, so then we keep perceiveing the environment as a dangerous place. 
So one of the effective technique is to let the physical body to let the fear go, then the mind can be function for our development. 


Learn How You can Change
We help you aware with the old pattern that no longer serves you. We help you using various methods which include changing the mind by connecting our neurological brain pathways, use and move the body with building the awareness of our physical body, and aware with the behavior we ussually showed. 
Brain/ Mind     Body     Behavior



2010-2020



Rabu, 07 September 2016

Tempat Sampah

Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar dan terlibat dengan kegiatan akademik seperti pengajaran, penelitian, dan pelayanan terhadap masyarakat.

Student Counselor atau Konselor mahasiswa, itu judulnya. Job desc-nya mirip dengan 'tempat sampah'. Kok tempat sampah? jelek banget permisalannya.. yah emang begitu.
Coba.. tempat, tempat apa yang dibutuhkan untuk membuang sesuatu yang jelek, dan mengganggu? Dibutuhkan tetapi sering tidak diingat kalau ada..? yaa... itulah Tempat sampah!
Boro-boro dirawat dan dijaga, seringkali malah jadi mirip sama isinya.. ya sampah.

Nah, berhubung itu yang disadari oleh kami para konselor. Makdarit, kami berusaha menjaga diri. Menjaga diri dengan hidup bersih. Bersih dari aura negatif yang seringkali terbawa oleh klien-klien kami. Transfer energi sebetulnya adalah hal yang wajar di dalam setiap relasi. Namun, lain lagi ketika relasi yang terbentuk bertemakan energi-energi negatif seperti amarah, kesedihan, kekecewaan, trauma, ketakutan. Tema-tema inilah yang biasanya mewarnai ruang konseling.

Pada saat kami memutuskan untuk bersedia menjadi 'tempat sampah', maka kami pun sudah perlu menyiapkan diri dengan segala konsekwensi ini.
Banyak yang merasa menjadi tempat curhatan orang itu mudah. Kan tinggal mendengarkan orang bercerita. Betul.
Saya sering kok, dimintai pendapat teman-teman saya. Mereka sering curhat ke saya dan minta nasihat saya.
Nah itu dia bedanya.
Bapak client-centered therapy, om Carl Rogers mengatakan bahwa setiap kita memiliki kapasitas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi dengan demikian buat apa tanya pendapat orang lain. Mereka sudah tahu. Mereka sudah paham. Tidak perlu lagi dinasihati dan diberi wejangan yang panjang kali lebar dan terasa membosankan. Tidak.. bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka hanya butuh katarsis. Mereka butuh mengeluarkan gejolak, percikan emosi yang pada saat itu menutupi mata dan kesadaran mereka sendiri.
Begitu kita konselornya mampu berperan seperti cermin yang jernih. Mampu merefleksikan gambaran real diri mereka sendiri, maka tanpa ada kesulitan, insight akan mereka peroleh sendiri. Pemahaman terhadap pemecahan masalah yang saat itu terasa berat akan jelas muncul di kepala mereka.

Penerimaan. Itu kuncinya kata om Rogers. Jika kita mampu menunjukkan sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional acceptance) maka klien akan mendapatkan pemahaman penuh mengenai diri mereka sendiri. Jalan keluarnya pun akan mereka peroleh sendiri. Mudah bukan...

Bukan!

Itu proses yang sama sekali tidak mudah. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses ini seringkali memberikan rasa tidak nyaman, dapat muncul juga perasaan sakit hati karena penolakan yang selama ini sering diperoleh dari sekitar. Sudah sedemikian biasanya kita dengan rasa sakit dan tidak nyaman yang selama ini lebih sering kita rasakan, sehingga ketika proses konseling memberikan pencerahan dan release yang tidak biasa mereka alami, biasanya mereka akan kembali lagi kepada pola-pola lama yang biasa mereka dapatkan, yaitu penolakan dan ketidaknyamanan. Bukan karena tidak ingin terlepas, melainkan karena kondisi inilah yang paling mereka kenal.

Salah satu metafora yang sering saya gunakan untuk menunjukkan pengenalan terhadap diri sendiri yaitu proses pengenalan diri ibarat mengupas dan mengupas bawang bombay, satu lapis ke lapisan lebih dalam lagi memberikan kita bukannya rasa nyaman dan enak melainkan rasa pedih dan pedas di mata dan hidung. Seperti itu pulalah proses pengenalan diri.
Ego kita sudah sedemikian tebalnya sehingga ketika kita mengupas bawang bombay untuk mendapatkan intisari siapa diri kita sesungguhnya rasanya berat dan menyakitkan.

Tetapi percayalah, proses yang terasa tidak mengenakkan ini sesungguhnya sangat membantu kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan yang selama ini dikatakan ayah ibu kita, bukan pula yang dikenal teman-teman kita, bukan juga yang dilihat guru kita di sekolah. Bukan seperti itu. Carilah lebih dalam siapa dirimu.

Virginia Satir seorang psikolog keluarga mengatakan bahwa dirimu bukanlah definisi yang dibuat orang-orang atas kamu.

So, define yourself. Who are you?

Article: Mari Bicara Stres

Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'.  Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada ...