Haloo, apa kabar tahun 2017?
Tidak terasa sudah (hampir) satu tahun, dua belas bulan, 54 minggu, 366 hari sudah (hampir) terlewati.
Tinggal sisa 3 minggu lagi, atau 21 hari lagi menjelang tahun yang baru.
Saya bukan tipe orang yang senang membuat resolusi. Tetapi tahun ini rasanya saya perlu sedikit menoleh ke belakang untuk mengevaluasi dan belajar untuk perkembangan diri saya pribadi di tahun yang akan datang.
Peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di tahun 2017? Yuk, mari kita lihat kembali.
Ternyata, setelah saya mengintip dapur blog ini, tulisan pertama di tahun 2017 adalah di bulan April, tepatnya tanggal 22. Hehee, ini mah sudah hampir masuk di bulan ke-lima. Itupun masih dalam bentuk draft karena belum di-publish 😉 hihiii, ini kebiasaan buruk saya memang. Banyak menulis, tidak ada yang dipublish. Bukan karena tidak selesai, lebih karena tidak PD. Penyakit.
Tapi baiklah, setelah saya sadari, saya terima, maka saatnya saya menikmati dan syukuri. #sadarisyukurinikmati
Oh, tapi ada tulisan yang mengangkat refleksi tahun 2016. (lihat di sini)
Oke, mari kita membuat sub-judul yang sama, agar terasa aliran idenya.
1. Sepuluh (10) Hal yang perlu disyukuri tahun 2017
- Semakin mantap dengan karir yang sedang dijalani. Menjadi psikolog, therapist, trainer, facilitator, counselor, meditator, kinesiolog.
- Semakin banyak keterampilan dan perkembangan profesional yang dirasakan baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain.
- Semakin banyak kesempatan terbuka untuk perkembangan dan pengembangan personal maupun profesional.
- Rejeki makin mengalir dari banyak pintu di semua arah (#eciee..)
- Keluarga sehat semua. Atha sudah umur 5 tahun, Papa sehat (meskipun masih terpisah jarak), Eyang sehat di Malang, Mama sehat (meskipun perlu ada beberapa penyesuaian terkait penyerapan energi ketika praktik), Umi juga baik-baik saja. Puji Tuhan.
- Uang pendidikan di Asuransi Pendidikan sudah keluar untuk anak masuk SMA. Hahaaa... ini ada ceritanya, ketika saya masih single (dan sedang jomblo), tidak punya pacar, tapi sok yakin ikutan asuransi pendidikan anak. Ya begini jadinya, anak sendiri masih umur 5 tahun, tapi asuransi pendidikan sudah untuk memasukkan anak di tingkat pendidikan SMA. 😆
- Beberapa tagihan cicilan (yang terbesar) akhirnya lunasss... Puji Tuhan. Starting to earn more money from the money I have now. 👌👍👊💞∞⧝
- Beberapa terapi yang pernah saya jalani, mulai terasa manfaatnya sekarang. (the energy flow which help me allign with the Source. Make me easier to deal with frustration, able to forgive, start to have my personal voice, starting to feel the energy of creation, being steady on the ground). Thank you.. Thank you.. Thank you..
- Some of the professional courses I have been participating in and practicing it in my own cases, start to be able to be shared. For example: How to live mindful, How to be centered and balanced, How to integrate body in learning.
- Buku suami terbit (Penelitian Fenomenologis), hahaaa.. bukan hasil karyaku tapi, paling tidak ada andilku-lah sebagai isteri yang siap dicuekin kalau pas beliaunya lagi menulis... itu kan bisa dibilang kontribusi juga tho. Paling tidak keluarga La Kahija mensyukuri ini. PUJI TUHAN.
2. Pengalaman luar biasa di tahun 2017
Tahun 2017 ini pertama kalinya aku mulai mengajarkan kelas meditasi dan ini kelas sharing berbayar. Baiklah, ayo kita mulai serius belajar dan mengorganisir-nya.
3. Pembelajaran/ Hikmah sepanjang tahun 2017
Bulan September dan Oktober merupakan bulan kesehatan mental. Dimulai di tanggal 10 September Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia (World Suicide Prevention Day), sampai Hari Kesehatan Mental Sedunia di tanggal 10 Oktober.
Tahun ini, sengaja membuat janji dalam diri untuk mulai mengkampanyekan pentingnya kesehatan mental di dalam Sosial Media pribadi. Jadi selama 30 hari, iG: @saiasilia menuliskan artikel singkat mengenai pentingnya memberi perhatian lebih pada kesehatan mental. Belum apa-apa sih dibandingkan banyak orang lain, tapi ini merupakan kemenangan pribadi buat saya. Buat orang introvert yang tidak terlalu nyaman dan tidak terlalu suka mengumbar hasil pikiran, hasil refleksi pribadi ke ranah publik, yang sudah saya lakukan cukup membanggakan (sekali lagi ya, ini untuk saya pribadi... yippiiii, prok prok prok Good Job 👌✌).
4. Tantangan 2016 yang sudah terlampaui di tahun 2017?
Pindah rumah?
Resign dari kantor?
Kerja dari rumah?
Punya bisnis baru? (👌✓)
Dari empat hal di atas, yang sudah dijalankan baru no.4, "Punya bisnis baru." Iya, tahun 2017 moment Samatha Center akan re-launching. Semoga dapat terus jalan yah. Bisa berbagi, bisa memberikan kontribusi untuk sekitar dan masyarakat. Semoga, amin.
5. Tantangan/ Target Pencapaian untuk 2018?
Jika tahun 2016 adalah Tahun Pangilan bagiku,
maka tahun 2017 adalah Tahun Penjajagan.
dan tahun 2018 ingin kujadikan sebagai Tahun Kriya, atau Tahun Berkarya.
Aku ingin bisa memaksimalkan apa yang bisa aku buat, apa yang bisa aku lakukan, apa yang bisa aku sumbangkan, apa yang dapat aku tinggalkan untuk kebaikan dunia, sebelum aku dipanggil kembali. Sebelum masa tugasku berakhir 💫😉.
Catatan akhir tahun 2018 yang saya inginkan adalah kegiatan apa saja yang sudah saya lakukan.
Training? Fasilitasi? Meditasi? MBL? Mindfulnes?
Konseling?
Konsultasi Psikologis?
Movement Based Learning?
Samatha Center? Rumah Samatha? Samatha Press?
Touch For Healing?
Shiatsu?
Dua kegiatan ini pingin saya pelajari dan kembangkan menjadi salah satu layanan.
***
Dec 2017 (3 minggu menjelang pergantian tahun)
***
The aim of Life is to LIVE, and to Live means to be aware, joyously, drunkenly, serenely, divinely AWARE. ~ Henry Miller
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Desember 2017
Minggu, 30 April 2017
B.e.r.s.y.u.k.u.r #edisiMudik36jam
Sebagai Homo Religius atau mahluk beragama, tentu saja saya meyakini kehendak Sang Pencipta sebagai rencana terindah. Tentunya tanpa melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai pengambil keputusan lo ya.. Tetapi meskipun demikian bahkan saya meyakini bahwa keputusan saya tidak betul-betul lepas dari keinginan-Nya mengarahkan hidup saya. Amin.
Sampai saat ini sudah begitu buanyaaaaak sekali rahmat dan berkat yang sudah Allah berikan dalam hidup saya, sehingga rasanya tidak cukup hanya mengucap syukur dalam doa-doa. Saya ingin membagikannya kepada banyak orang. Mungkin supaya semakin banyak berkat yang diberikan-Nya buat saya yah.. hehee... Amiiin.
Lebaran tahun 2016 merupakan hari Raya yang cukup berkesan buat saya hingga hari ini. Pembukaan exit tol baru Brebes Timur sempat menggoda kami untuk mencobanya. Bayangkan saja, betapa kurang isengnya kami, merayakan lebaran juga enggak, butuh silaturahmi ke keluarga yang merayakan juga enggak, nah kan..
"eh, Ma.. tol baru sudah dibuka lho, di Brebes.. wuaah, perjalanan kita bisa lebih cepat niih", ujar si papa.
"Ayook, kita jalan ke Semarang, yook.. sambil nyoba tol baru..", tambah semangat dia...
Berhubung lebaran tahun itu jatuh di hari Rabu dan Kamis, dan pemerinta berbaik hati mengurangi jatah cuti kita dengan menetapkan cuti bersama di hari Senin, Rabu dan Jumat, maka praktis kita memiliki hari libur satu minggu.
Nah, gambling dimulai di sini.. Kapan kita mulai jalan? Di hari Kamis, seminggu sebelumnyakah? hari Jumat? atau Justru mendekati hari Minggu? dengan harapan jalur mudik akan terbagi rata ramainya karena panjangnya waktu libur sebelum lebaran. Silly me...!! It never happen... Si Papa sibuk mengikuti berita jalur mudik di televisi, dan bilang kalau jalur mudik lancar jaya. Tanpa kami berpikir bahwa bersamaan dengan itu 13 juta orang berpikir hal yang sama.. (http://www.dephub.go.id/welcome/readPost/badan-litbang-kemenhub-prediksi-25-juta-orang-akan-mudik-tahun-ini)
Daan, terjadilah yang harus terjadi, haahahaaa.. M.A.C.E.T.
Bahkan semua berita nasional memberitakan kondisi macet yang dikategorikan sebagai macet mudik terparah.
http://regional.kompas.com/read/2016/07/04/13524671/.ini.luar.biasa.macetnya.ini.mudik.paling.parah.
http://www.viva.co.id/ramadan2016/read/796250-macet-mudik-lebaran-2016-mabes-polri-minta-maaf
https://news.hargatop.com/2016/07/01/berita-info-jalur-mudik-lebaran-2016-sore-ini-macet-parah-di-exit-gt-brebes-timur-jalur-pantura-lancar/4127332.html
Perjalanan dimulai Sabtu, 2 Juli 2016 dini hari.. Dengan semangat 45, kami mulai berjalan. Sangaaat optimis bahwa perjalanan akan lancar.. yaiyalah, kalau baru mulai jalan saja sudah loyo, bagaimana selanjutnya, ya gak.. Maka kami mulai perjalanan dengan doa dan semangat.
Google Maps mulai menunjukkan keperkasaannya... Setelah setengah jam perjalanan, Dia menyuruh kami keluar dari tol cikampek dan menyusuri jalan biasa. Kami ikuti saja.. Saat itu di HP tertera waktu perjalanan akan berlangsung selama kurang lebih 8 jam. Makin optimislah kami... 461, 7 km ditempuh dalam 8 jam seperti perjalanan-perjalanan normal kami sebelumnya.
Selang satu jam berikutnya kami menyusuri Karawang Barat, lalu Karawang Timur melalui jalur biasa. Jalur memang tidak macet, tetapi tidak selancar perjalanan kami sebelumnya. Kami cek lagi, waktu tempuh perjalanan, anehnya masih tetap 8 jam.. Kenapa tidak berkurang juga? [sekarang saya paham, itu terjadi karena dari seluruh jalur yang akan kami tempuh, kepadatan kendaraan sudah menuju titik jalur pantura.] Ini artinya kami berkompetisi dengan ribuan kendaraan yang sedang menuju arah yang sama..
Sampai jam 7 malam, kami bahkan masih belum sampai Tegal. Berarti sudah 16 jam kami di jalan. Yang perlu disyukuri adalah, baik papa Atha, Atha maupun mamanya berada dalam kondisi psikhis yang sangat baik. Kami bisa menyikapi perjalanan ini dengan sangat positif. Anaknya bahkan masih bisa bercanda-canda. Heheee... bayangkan saja, kalau yang terjadi sebaliknya.. Haduuuh.. lelah lahir batin dong..
Malam hari itu, pikiran-pikiran ingin lepas dari situasi macetpun muncul. Dari yang ingin belok ke jalur selatan, ingin mampir ke Wonosobo, sampai ingin menginap dulu di jalan. Tidak semuanya ingin diseriusi. Yaiya, karena ini hanya pikiran nakal yang muncul untuk melepaskan diri.
Perjalanan padat di jalur pantura, membuat papa Atha berniat belok melewati jalur Selatan. Analisisnya jalur Selatan tidak akan sepadat jalur yang sedang dilewati. Tapi ternyata masuk ke jalur selatan dari jalur utara ketika waktu mudik, tidaklah mudah. Semua jalur tertutup. Tapi dasarnya BEJO, ada satu waktu, kami justru diarahkan ke jalur selatan.
Setelah akhirnya berhasil masuk di jalur selatan, kami melewati jembatan yang melintasi jalan tol Pantura yang macet total. Di situ kami merasa sangaaat bersyukur. Jam 09.00 malam itu, rasa syukur kami rayakan dengan makan bakso.
Ternyata jalur selatan tidak seindah yang dibayangkan. Kami tetap berkutat dengan macet di mana-mana. Bahkan bahan bakar mobil yang mulai tiris mau tidak mau memaksa untuk berhenti dan menginap di POM Bensin.
Jam 00.30 kami sampai di POM Bensin yang ketiga (karena di kedua stasiun pengisian yang sebelumnya, kami kehabisan bensin dan pada saat itu, masih berpikir bahwa siapa tahu POM yang berikutnya masih ada bensin. Tapi kembali lagi, kami lupa kalau kami bersaing dengan begitu banyak kendaraan dengan kondisi yang mirip).
Beritanya di sini:
http://ramadhan.kompas.com/article/read/2016/07/04/22543131/terjebak.macet.pemudik.terpaksa.beli.bensin.eceran.rp.50.000.per.liter
Oke.. kembali ke POM Bensin yang ketiga ini. Kami sempat bingung dengan situasinya. Banyak orang, banyak kendaraan mengantri, tetapi tidak ada transaksi apa-apa, malah banyak orang yang tidur-tiduran di situ. Suami sempat ragu tetapi tetap memasukkan mobil ke dalam POM Bensin.
Setelah ditanyakan, ternyata tanki pengisi bahan bakar masih di jalan, sudah jalan sejak jam 4 sore dan belum tiba juga jam 12 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu, mengantri, sambil beristirahat. Karena tidak mungkin juga bisa berjalan jauh dengan kondisi bahan bakar kritis begini.
Bergantian dengan papa Atha untuk menemani anaknya yang mulai eksplorasi, kami mencoba menikmati tempat sambil beristirahat. Tidak terasa lama, sekitar jam 6.30 pagi, tanki pengisian bahan bakar sudah tiba.. Puji Tuhan..
Setelah melewati situasi 'mulur' dan 'mungkret', istilah yang dipakai Ki Suryomentaram untuk menggambarkan suasana hati senang dan susah. Suasana hati senang (bungah) dan susah akan terus muncul silih berganti dalam setiap peristiwa hidup kita. Maka setelah pengisian bahan bakar, rasanya bungah hati.. senang.. (etapiii, siap-siap susah lagi yaa..!).
Menurut Ki Suryomentaram, Jika bungah dan susah dipahami sebagai sebuah proses yang alami, maka tidak ada yang namanya penyesalan. Semua lewat begitu saja. "Bungah, yo bungaho" (senang yang silakan senang saja), "nek susah, yo diwasno" (jika susah ya diamati saja).
Jika sekarang dibayangkan, maka perjalanan 36 jam itu rasanya beraaat sekali. Engganlah jika disuruh mengulangi kembali. Bayangkan saja, perjalanan panjang itu harus dilewati dengan kondisi AC mobil yang trouble. Hadeeeuh.. gak kurang-kurangnya cobaan dan tantangan hidup kami kaan...
Tapiiiii, dengan segala halangan dan kesulitan di atas, keajaiban yang kami temui juga buaanyaaaak sekali. (#count_the_blessings)
- Sebut saja ditunjukkan jalan oleh orang tidak dikenal, melewati sawah dan perumahan, bahkan dia sempat menyingkirkan halangan di tengah jalan. Tapi tiba-tiba di ujung jalan orang tersebut menghilang.
- Masuk di POM bensin yang antriannya sudah mengular, tetapi karena ketidaktahuan kami, malah kami masuk di antrian depan.
- Ketika kami berniat melewati jalur selatan, tetiba ada peluang dan arahan untuk menuju ke sana.
- Dari antrian yang panjang, tau-tau ada 4-5 anak usia SMP menyuruh kami mengambil belokan untuk sampai di tempat di depan kami.
- Ditunjukkan jalan alternatif oleh penduduk setempat, tetapi karena sepi tidak ada yang melewati maka sempat bingung lewat mana. Tetiba, muncul angkot dan ketika kita tanyakan arah, dia minta kita mengikutinya.
Kalau bukan malaikat, saya gak tahu lagi menyebutnya dengan apa... Semua mereka ini adalah malaikat penjaga kami sekeluarga.
Maka tak henti-henti kami mengucap syukur pada Tuhan. Puji Tuhan.
Jika Tuhan melindungi saya dan keluarga saya, maka Dia pun akan melindungi kita semua. Dia akan melindungi dan memberkati negara kita Indonesia. Tuhan tidak akan menjauh dan menutup mata dari semua peristiwa yang terjadi. Tuhan tidak akan tinggal diam.
#NKRI #BerkahAllah #PerlindunganAllah #PenyelenggaraahIlahi
Sampai saat ini sudah begitu buanyaaaaak sekali rahmat dan berkat yang sudah Allah berikan dalam hidup saya, sehingga rasanya tidak cukup hanya mengucap syukur dalam doa-doa. Saya ingin membagikannya kepada banyak orang. Mungkin supaya semakin banyak berkat yang diberikan-Nya buat saya yah.. hehee... Amiiin.
Lebaran tahun 2016 merupakan hari Raya yang cukup berkesan buat saya hingga hari ini. Pembukaan exit tol baru Brebes Timur sempat menggoda kami untuk mencobanya. Bayangkan saja, betapa kurang isengnya kami, merayakan lebaran juga enggak, butuh silaturahmi ke keluarga yang merayakan juga enggak, nah kan..
"eh, Ma.. tol baru sudah dibuka lho, di Brebes.. wuaah, perjalanan kita bisa lebih cepat niih", ujar si papa.
"Ayook, kita jalan ke Semarang, yook.. sambil nyoba tol baru..", tambah semangat dia...
Berhubung lebaran tahun itu jatuh di hari Rabu dan Kamis, dan pemerinta berbaik hati mengurangi jatah cuti kita dengan menetapkan cuti bersama di hari Senin, Rabu dan Jumat, maka praktis kita memiliki hari libur satu minggu.
Nah, gambling dimulai di sini.. Kapan kita mulai jalan? Di hari Kamis, seminggu sebelumnyakah? hari Jumat? atau Justru mendekati hari Minggu? dengan harapan jalur mudik akan terbagi rata ramainya karena panjangnya waktu libur sebelum lebaran. Silly me...!! It never happen... Si Papa sibuk mengikuti berita jalur mudik di televisi, dan bilang kalau jalur mudik lancar jaya. Tanpa kami berpikir bahwa bersamaan dengan itu 13 juta orang berpikir hal yang sama.. (http://www.dephub.go.id/welcome/readPost/badan-litbang-kemenhub-prediksi-25-juta-orang-akan-mudik-tahun-ini)
Daan, terjadilah yang harus terjadi, haahahaaa.. M.A.C.E.T.
Bahkan semua berita nasional memberitakan kondisi macet yang dikategorikan sebagai macet mudik terparah.
http://regional.kompas.com/read/2016/07/04/13524671/.ini.luar.biasa.macetnya.ini.mudik.paling.parah.
http://www.viva.co.id/ramadan2016/read/796250-macet-mudik-lebaran-2016-mabes-polri-minta-maaf
https://news.hargatop.com/2016/07/01/berita-info-jalur-mudik-lebaran-2016-sore-ini-macet-parah-di-exit-gt-brebes-timur-jalur-pantura-lancar/4127332.html
Perjalanan dimulai Sabtu, 2 Juli 2016 dini hari.. Dengan semangat 45, kami mulai berjalan. Sangaaat optimis bahwa perjalanan akan lancar.. yaiyalah, kalau baru mulai jalan saja sudah loyo, bagaimana selanjutnya, ya gak.. Maka kami mulai perjalanan dengan doa dan semangat.
Google Maps mulai menunjukkan keperkasaannya... Setelah setengah jam perjalanan, Dia menyuruh kami keluar dari tol cikampek dan menyusuri jalan biasa. Kami ikuti saja.. Saat itu di HP tertera waktu perjalanan akan berlangsung selama kurang lebih 8 jam. Makin optimislah kami... 461, 7 km ditempuh dalam 8 jam seperti perjalanan-perjalanan normal kami sebelumnya.
Selang satu jam berikutnya kami menyusuri Karawang Barat, lalu Karawang Timur melalui jalur biasa. Jalur memang tidak macet, tetapi tidak selancar perjalanan kami sebelumnya. Kami cek lagi, waktu tempuh perjalanan, anehnya masih tetap 8 jam.. Kenapa tidak berkurang juga? [sekarang saya paham, itu terjadi karena dari seluruh jalur yang akan kami tempuh, kepadatan kendaraan sudah menuju titik jalur pantura.] Ini artinya kami berkompetisi dengan ribuan kendaraan yang sedang menuju arah yang sama..
Sampai jam 7 malam, kami bahkan masih belum sampai Tegal. Berarti sudah 16 jam kami di jalan. Yang perlu disyukuri adalah, baik papa Atha, Atha maupun mamanya berada dalam kondisi psikhis yang sangat baik. Kami bisa menyikapi perjalanan ini dengan sangat positif. Anaknya bahkan masih bisa bercanda-canda. Heheee... bayangkan saja, kalau yang terjadi sebaliknya.. Haduuuh.. lelah lahir batin dong..
Malam hari itu, pikiran-pikiran ingin lepas dari situasi macetpun muncul. Dari yang ingin belok ke jalur selatan, ingin mampir ke Wonosobo, sampai ingin menginap dulu di jalan. Tidak semuanya ingin diseriusi. Yaiya, karena ini hanya pikiran nakal yang muncul untuk melepaskan diri.
Perjalanan padat di jalur pantura, membuat papa Atha berniat belok melewati jalur Selatan. Analisisnya jalur Selatan tidak akan sepadat jalur yang sedang dilewati. Tapi ternyata masuk ke jalur selatan dari jalur utara ketika waktu mudik, tidaklah mudah. Semua jalur tertutup. Tapi dasarnya BEJO, ada satu waktu, kami justru diarahkan ke jalur selatan.
Setelah akhirnya berhasil masuk di jalur selatan, kami melewati jembatan yang melintasi jalan tol Pantura yang macet total. Di situ kami merasa sangaaat bersyukur. Jam 09.00 malam itu, rasa syukur kami rayakan dengan makan bakso.
Ternyata jalur selatan tidak seindah yang dibayangkan. Kami tetap berkutat dengan macet di mana-mana. Bahkan bahan bakar mobil yang mulai tiris mau tidak mau memaksa untuk berhenti dan menginap di POM Bensin.
Jam 00.30 kami sampai di POM Bensin yang ketiga (karena di kedua stasiun pengisian yang sebelumnya, kami kehabisan bensin dan pada saat itu, masih berpikir bahwa siapa tahu POM yang berikutnya masih ada bensin. Tapi kembali lagi, kami lupa kalau kami bersaing dengan begitu banyak kendaraan dengan kondisi yang mirip).
Beritanya di sini:
http://ramadhan.kompas.com/article/read/2016/07/04/22543131/terjebak.macet.pemudik.terpaksa.beli.bensin.eceran.rp.50.000.per.liter
Setelah ditanyakan, ternyata tanki pengisi bahan bakar masih di jalan, sudah jalan sejak jam 4 sore dan belum tiba juga jam 12 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu, mengantri, sambil beristirahat. Karena tidak mungkin juga bisa berjalan jauh dengan kondisi bahan bakar kritis begini.
Bergantian dengan papa Atha untuk menemani anaknya yang mulai eksplorasi, kami mencoba menikmati tempat sambil beristirahat. Tidak terasa lama, sekitar jam 6.30 pagi, tanki pengisian bahan bakar sudah tiba.. Puji Tuhan..
Setelah melewati situasi 'mulur' dan 'mungkret', istilah yang dipakai Ki Suryomentaram untuk menggambarkan suasana hati senang dan susah. Suasana hati senang (bungah) dan susah akan terus muncul silih berganti dalam setiap peristiwa hidup kita. Maka setelah pengisian bahan bakar, rasanya bungah hati.. senang.. (etapiii, siap-siap susah lagi yaa..!).
Menurut Ki Suryomentaram, Jika bungah dan susah dipahami sebagai sebuah proses yang alami, maka tidak ada yang namanya penyesalan. Semua lewat begitu saja. "Bungah, yo bungaho" (senang yang silakan senang saja), "nek susah, yo diwasno" (jika susah ya diamati saja).
Jika sekarang dibayangkan, maka perjalanan 36 jam itu rasanya beraaat sekali. Engganlah jika disuruh mengulangi kembali. Bayangkan saja, perjalanan panjang itu harus dilewati dengan kondisi AC mobil yang trouble. Hadeeeuh.. gak kurang-kurangnya cobaan dan tantangan hidup kami kaan...
Tapiiiii, dengan segala halangan dan kesulitan di atas, keajaiban yang kami temui juga buaanyaaaak sekali. (#count_the_blessings)
- Sebut saja ditunjukkan jalan oleh orang tidak dikenal, melewati sawah dan perumahan, bahkan dia sempat menyingkirkan halangan di tengah jalan. Tapi tiba-tiba di ujung jalan orang tersebut menghilang.
- Masuk di POM bensin yang antriannya sudah mengular, tetapi karena ketidaktahuan kami, malah kami masuk di antrian depan.
- Ketika kami berniat melewati jalur selatan, tetiba ada peluang dan arahan untuk menuju ke sana.
- Dari antrian yang panjang, tau-tau ada 4-5 anak usia SMP menyuruh kami mengambil belokan untuk sampai di tempat di depan kami.
- Ditunjukkan jalan alternatif oleh penduduk setempat, tetapi karena sepi tidak ada yang melewati maka sempat bingung lewat mana. Tetiba, muncul angkot dan ketika kita tanyakan arah, dia minta kita mengikutinya.
Kalau bukan malaikat, saya gak tahu lagi menyebutnya dengan apa... Semua mereka ini adalah malaikat penjaga kami sekeluarga.
Maka tak henti-henti kami mengucap syukur pada Tuhan. Puji Tuhan.
Jika Tuhan melindungi saya dan keluarga saya, maka Dia pun akan melindungi kita semua. Dia akan melindungi dan memberkati negara kita Indonesia. Tuhan tidak akan menjauh dan menutup mata dari semua peristiwa yang terjadi. Tuhan tidak akan tinggal diam.
#NKRI #BerkahAllah #PerlindunganAllah #PenyelenggaraahIlahi
***
Sabtu, 22 April 2017
Kebahagiaanmu adalah TanggungJawabmu sendiri
"Berhentilah mengharapkan orang lain membuatmu bahagia. Kamu hanya akan menantinya seumur hidupmu dan kecewa" (Jeff Foster).
![]() |
| Just be happy, because nothing can make you happy. |
Para ilmuwan psikologi barat sudah merumuskan teori-teori mengenai kebahagiaan. Bapak Abe (Abraham Maslow) menyebutkan lima tangga kebutuhan yang dapat mengarahkan seseorang mencapai kebahagiaan. Dia mengatakan: "What a man can be, he must be." Apapun yang diinginkan seseorang untuk dia capai, pasti dapat dicapainya. Itulah yang dinamakan Aktualisasi Diri, level tertinggi dalam tangga kebutuhan Maslow.
Teori hierarki kebutuhan ini memang tidak keliru dalam mendefinisikan kebahagiaan, jika dilihat dalam konteks kepuasan hidup. Coba saja perhatikan kata: 'Apapun yang diinginkan seseorang...'
Berkaitan dengan filsafat Plato yang mengatakan bahwa Soul (Jiwa) terbagi menjadi tiga bagian, logistikon (logika), thymoeides (spirit) dan epithymetikon (appetite/ desire). Maka kebahagiaan jiwa terkait dengan terpenuhinya keinginan menjadi hanya pemenuhan salah satu peran soul, yaitu bagian yang terkait dengan appetite atau desire.
Pertanyaan selanjutnya dari ini, 'Bagaimana jika keinginanmu tidak tercapai?'
"Tentu saja aku tidak (atau belum bisa) bahagia."
Lalu betulkah bahagia harus beralasan?
Bagaimana bayi yang baru lahir dapat merasakan bahagia? Bagaimana bisa bahagia, jika mereka belum apa-apa? Belum jadi apa-apa. Belum punya apa-apa.
Jadi kapan bahagia dapat mulai diukur?
Bagaimana menjelaskan seorang tukang koran yang selalu tersenyum ketika mengantarkan koran, sedangkan di tempat lain ada seorang bapak parlente bermobil mewah, wajahnya sering terlihat ditekuk seperti sedang berpikir keras.
Maka di sinilah pandangan barat (menurut saya) masih belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Maka marilah kita mulai dengan melihat kedua
sudut pandang Ilmu Barat dan Timur mengenai kebahagiaan.
Pandangan Barat menganggap "More
is better".
Pandangan ini melihat
kebahagiaan dari apa yang sudah diperoleh,. Dan seberapa banyak perolehan itu. Sebagai
contoh, pekerjaan yang bergaji besar, kedudukan yang tinggi di tempat kerja, memiliki bawahan banyak,
merk jam tangan yang digunakan, berapa banyak negara yang sudah didatangi,
mobil atau pemilikan lain yang memiliki spec tinggi atau siapa saja orang-orang
terkenal yang sudah berfoto denganku.
Konsekwensi dari pandangan kebahagiaan ala Barat
di atas, adalah Kebahagiaan berorientasi ke luar. Selalu ada alasan
agar saya dapat bahagia. Misalnya saja, mendapatkan uang yang banyak dulu baru
saya bisa bahagia; Bisa keliling dunia dulu, setelah itu pasti saya dapat
berbahagia; atau bahkan alasan seperti Saya akan berbahagia jika sudah dapat
mengajak haji orangtua saya.
Alasan-alasan seperti ini tampaknya menjadi
alasan yang tepat untuk dapat membuat orang bahagia. Tetapi jika kita ulik
lagi, itu semua bukanlah essensi kebahagiaan. Jika mensyaratkan sesuatu, maka
kebahagiaan justru sulit datang dan menghampiri.
Lalu bagaimana pandangan Timur memandang kebahagiaan?
Mereka berprinsip "Less is better." Filosofi
Timur menganggap bahwa sumber dari segala kebahagiaan sudah ada di dalam diri
setiap manusia. Mereka tinggal perlu membangunkan kesadaran diri, bahwa
semua kelimpahan tersebut semestinya sudah mereka miliki.
Kesadaran diri menjadi kunci bagi munculnya
kebahagiaan. Maka menurut pandangan Timur, Kebahagiaan
berorientasi ke dalam. Mereka percaya bahwa tidak ada satu hal pun di luar
diri yang bertanggung jawab terhadap munculnya rasa bahagia. Semuanya sudah ada
di dalam, semuanya sudah tersedia, tinggal sekarang sadar atau tidakkah kita
untuk melihat itu semua.
Kesehatan yang cukup baik, adanya keluarga yang
dapat menemani, makanan dan rejeki yang cukup, punya pekerjaan yang cukup baik,
dapat bebas menuangkan pikiran dan perasaan, dapat bebas beribadah, ada rumah
tempat berteduh. Itu semua semestinya sudah cukup memberikan perasaan bersyukur
yang mengarah pada munculnya rasa bahagia.
***
Refleksi tahun 2016
Meskipun tahun 2017 sudah masuk di bulan ke-4 bahkan hampir tengah tahun, tidak ada salahnya untuk mulai kembali #menghitung_berkat (#count_blessings) yang sudah didapat sepanjang tahun 2016.
1. 10 hal yang perlu disyukuri tahun lalu
Keluarga Sehat (buktinya jatah medical reimbursement masih banyaak, Puji Tuhan), Bisa jalan-jalan keluarga dengan selamat dan menyenangkan, keajaiban-keajaiban sepanjang jalan mudik 2016 (cerita lengkap di bagian lain), Atha sehat dan makin membaik reaksi alerginya, pintu rejeki terbuka lebar, Rumah Gedawang selesai renovasi dan semoga membawa berkah, kembali berkutat dengan bidang yang disukai, masih punya energi, rejeki dan semangat untuk belajar.
2. Pengalaman luar biasa di tahun 2016
Tahun 2016 bulan Januari lalu persis di tahun baru, Keluarga La Kahija akhirnya mengadakan acara syukuran selesainya pembangunan rumah di Gedawang-Semarang.
Pembangunan rumah berlangsung selama kurang lebih satu tahun sejak November 2014. Begitu banyak 'cerita' selama pembangunan rumah. Dimulai dari tukang yang harus berganti sampai 3 kali, budget yang membengkak, dan pertimbangan-pertimbangan yang muncul on-the-spot di luar rencana tapi justru membawa berkah.
Rumah ini ingin kami jadikan sebagai rumah sehat, atau rumah yang mampu memberikan efek healing untuk siapapun yang datang. Amin, semoga direstui Gusti.
3. Pengalaman kurang menyenangkan di 2016
Adalah waktu dimana rasanya, sakit hatiii banget ketika dibohongi salah satu karyawan yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Tapi sudahlah, semua orang punya 'paket'annya sendiri-sendiri. Setiap orang punya PRnya sendiri. Mungkin PR saya ya itu..
4. Pembelajaran
Tahun 2016 merupakan tahun #Panggilan_Pribadi (#my_true_calling). Saya seperti dikembalikan kepada niat awal belajar psikologi. Terimakasih kepada salah satu #mantanboskesayangan yang sudah membuka kesempatan baru ini buat saya. Peluang ini bukan saja memberikan saya excitement baru, tetapi juga mengembalikan saya pada alasan saya hidup.
Masih banyak yang harus kembali saya pelajari. Tidak apa, selama semangat saya masih meluap dan berlimpah. Karena saya yakin, yang saya lakukan menjadi kontribusi saya dan ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi saya dan orang-orang di sekitar saya.
5. Tantangan di tahun baru (Tahun 2017)
Pindah rumah?
Resign dari kantor?
Kerja dari rumah?
Punya bisnis baru?

Semoga next chapter, udah bisa buat timeline yang pasti terkait dengan tantangan-tantangan baru itu.
***
1. 10 hal yang perlu disyukuri tahun lalu
Keluarga Sehat (buktinya jatah medical reimbursement masih banyaak, Puji Tuhan), Bisa jalan-jalan keluarga dengan selamat dan menyenangkan, keajaiban-keajaiban sepanjang jalan mudik 2016 (cerita lengkap di bagian lain), Atha sehat dan makin membaik reaksi alerginya, pintu rejeki terbuka lebar, Rumah Gedawang selesai renovasi dan semoga membawa berkah, kembali berkutat dengan bidang yang disukai, masih punya energi, rejeki dan semangat untuk belajar.
2. Pengalaman luar biasa di tahun 2016
Tahun 2016 bulan Januari lalu persis di tahun baru, Keluarga La Kahija akhirnya mengadakan acara syukuran selesainya pembangunan rumah di Gedawang-Semarang.
Pembangunan rumah berlangsung selama kurang lebih satu tahun sejak November 2014. Begitu banyak 'cerita' selama pembangunan rumah. Dimulai dari tukang yang harus berganti sampai 3 kali, budget yang membengkak, dan pertimbangan-pertimbangan yang muncul on-the-spot di luar rencana tapi justru membawa berkah.
Rumah ini ingin kami jadikan sebagai rumah sehat, atau rumah yang mampu memberikan efek healing untuk siapapun yang datang. Amin, semoga direstui Gusti.
3. Pengalaman kurang menyenangkan di 2016
Adalah waktu dimana rasanya, sakit hatiii banget ketika dibohongi salah satu karyawan yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Tapi sudahlah, semua orang punya 'paket'annya sendiri-sendiri. Setiap orang punya PRnya sendiri. Mungkin PR saya ya itu..
4. Pembelajaran
Tahun 2016 merupakan tahun #Panggilan_Pribadi (#my_true_calling). Saya seperti dikembalikan kepada niat awal belajar psikologi. Terimakasih kepada salah satu #mantanboskesayangan yang sudah membuka kesempatan baru ini buat saya. Peluang ini bukan saja memberikan saya excitement baru, tetapi juga mengembalikan saya pada alasan saya hidup.
Masih banyak yang harus kembali saya pelajari. Tidak apa, selama semangat saya masih meluap dan berlimpah. Karena saya yakin, yang saya lakukan menjadi kontribusi saya dan ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi saya dan orang-orang di sekitar saya.
Pindah rumah?
Resign dari kantor?
Kerja dari rumah?
Punya bisnis baru?

Semoga next chapter, udah bisa buat timeline yang pasti terkait dengan tantangan-tantangan baru itu.
***
Minggu, 12 Oktober 2014
B.e.r.s.y.u.k.u.r.#edisi_kereta
Beberapa kejadian dalam seminggu ini membuat saya sangat bersyukur dan ingin berbagi. Dan meskipun tidak ada yang menantang untuk #counting_the_blessing, (hehee, tidak minta ditantang juga sih), saya mau mengucap syukur.
Hari Sabtu sore kemarin kami pergi untuk mengantarkan papanya Atha ke stasiun Gambir untuk pulang ke Semarang. Kereta berangkat jam 17.00 tapi kami baru berangkat dari rumah di Jatiasih jam setengah empat. Sudah paham kalau hari Sabtu adalah hari macet seJakarta, tapi yah rencana berangkat jam 2, mundur ke jam 3, sampai akhirnya betul-betul jalan jam 15.30.
Kami hanya punya waktu satu setengah jam, ke arah Gambir di hari Sabtu sore. Mau marah atau kesal, sama siapa, dan buat apa, toh sudah terlanjur.
Betul saja, masuk tol dalam kota, jalan sudah merayap cenderung berhenti.. spontan kami mengambil tol Rawamangun yang mengarah ke Pramuka. Rencananya kami mengambil arah Senen melewati Salemba. Ternyata tidak berbeda dengan tol dalam kota, kendaraan berjalan sangat pelan.. sementara itu detak jantung saya berbanding terbalik dengan kecepatan kendaraan. Jam pun rasanya tidak ada toleransi, terus saja bergulir tanpa ampun.
Jam 16.23 kami baru keluar di Rawamangun, ...daaan... kami salah mengambil belokan. Alih-alih belok kiri mengarah ke paseban, kami malah lurus mengambil jalan layang ke arah cempaka putih raya. Tidak masalah kalau kami tahu jalan.. masalahnya adalah suami orang Semarang sedangkan saya spatial-disorientasi kronis. Eyang Atha yang saat itu juga ada di dalam kendaraan, sebetulnya adalah "Ratu Jalanan" pada jamannya. Jaman sekarang, ternyata beliau kalah dengan pembangunan ibukota yang cukup masif sehingga mengurangi daya perseptualnya.
Jam 16.23 kami baru keluar di Rawamangun, ...daaan... kami salah mengambil belokan. Alih-alih belok kiri mengarah ke paseban, kami malah lurus mengambil jalan layang ke arah cempaka putih raya. Tidak masalah kalau kami tahu jalan.. masalahnya adalah suami orang Semarang sedangkan saya spatial-disorientasi kronis. Eyang Atha yang saat itu juga ada di dalam kendaraan, sebetulnya adalah "Ratu Jalanan" pada jamannya. Jaman sekarang, ternyata beliau kalah dengan pembangunan ibukota yang cukup masif sehingga mengurangi daya perseptualnya.
Kami terus berjalan pelan sambil melihat marka jalan yang dapat menunjukkan arah Senen. Kalau saya ingat lagi, reaksi kami masing-masing dalam kendaraan sangat unik, terutama eyang Atha. Begitu masuk di jalan tol yang merambat, beliau langsung saja mengeluarkan kalung rosario dan berdoa. Itu sebabnya ketika kami salah mengambil jalan dengan tidak berbelok, Eyang Atha sangat merasa bersalah, dan berulang-ulang kali mengucapkan penyesalannya.. Papa Atha, sempat merasa tidak yakin dan meminta saya menelpon PT KAI untuk memesan tiket baru untuk jadwal keberangkatan malam. Untung saja, beberapa kali mencoba tapi tidak tersambung. Kalau saya sendiri, seberapa besar saya berusaha menenangkan diri, saya tetap merasa tidak yakin dan mulai menyalahkan orang lain.
Beberapa kali saya merasa perlu untuk selalu mengingatkan diri saya sendiri menarik napas, mengeluarkan napas, menarik napas, mengeluarkan napas... begitu terus untuk membuat tenang dan lebih fokus.
Kembali ke jalan Cempaka Putih dan area Rawasari, kami teruskan perjalanan untuk paling tidak mengarah ke Senen. Karena sekali lagi, itu jalan yang kami tahu dapat mengarah ke Gambir. Sampai di belokkan Cempaka Putih Raya satu hal yang kami cari adalah Bajaj, karena jam saat itu sudah menunjukkan pukul 16.33. Dengan kondisi tidak ada yang tahu arah dan jalan yang agak padat, kami lebih percaya pada profesional jalanan.
Tidak lama kami lihat 3 bajaj kosong dan satu orang yang sempat saya ragukan seorang supir bajaj. Ternyata betul dia orangnya, jodoh kami. Tidak lama nego harga, si supir menyatakan sanggup mengantar kurang lebih 20 menit sampai Gambir, maka semua barang pun berpindahtempat.
Kami memutuskan untuk tetap mengikuti dan berjalan di belakang bajaj agar, jika betul tidak sampai tepat waktu, kami bisa mengantarkan ke sta.Senen untuk menunggu kereta malam. Hahaa, dasarnya saya, bajaj ke mana.. saya ke mana... hilanglah jejak itu bajaj.
Jalan sendiri-sendiri.. saya terus berdoa dan berharap papa Atha sampai tepat waktu.
Dan betul saja, jam 16.55, telpon berdering dan sudah ada di dalam kereta. Puji Tuhan!!
Hhhhh... sore yang melelahkan sekaligus ajaib.
Rabu, 10 September 2014
Best Friend
Tonight, I've watched an episode of a television program named "Chick Fix". Actually, this is the second episode I've seen. There are some of the girls who had a problems with their life and gathered to share and hope to find a way out of their problem back home. The first night's meant to be used a sharing moment. They will have a lot of time to chat and open their shell for other to see. From this discussion, they will finally see (if not by other, or themselves) what is the core of their problem.
After this, they will have their homework to do while they're going back to where they are. The homework is something like a commitment to do in order to get out from their things.
What I think from this TV program is something we can do as long as we have a good friend of ours. They actually do things which best-ies are doing. They listen to what's bothering you, they give some advices, they even know your family background, they know what you like, what you don't like.
What I am saying is, find your best friend. Be a good friend, so that you don't need to get into a TV program just to get someone to listen to you. If you need a professional, get some. You will be surprise by how much you've been get until you lost it.
***
glad I have some good friends in you
After this, they will have their homework to do while they're going back to where they are. The homework is something like a commitment to do in order to get out from their things.
What I think from this TV program is something we can do as long as we have a good friend of ours. They actually do things which best-ies are doing. They listen to what's bothering you, they give some advices, they even know your family background, they know what you like, what you don't like.
What I am saying is, find your best friend. Be a good friend, so that you don't need to get into a TV program just to get someone to listen to you. If you need a professional, get some. You will be surprise by how much you've been get until you lost it.
***
glad I have some good friends in you
Langganan:
Postingan (Atom)
Article: Mari Bicara Stres
Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'. Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada ...
-
Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar ...
