Tampilkan postingan dengan label real life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label real life. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

Article: Samatha Center

Balance - Center - Calm - Clear

Body - Mind - Soul















Who We Are   How We Can Help   F.A.Q   Articles   Free Guide   Contact   Login

Who We Are

Samatha Center is the center to help you get back to balance from everyday stress life. We're living in the world that we perceived as stressfull. While actually we are living in era which joy and comfortable life is so easy to be found. Yet, we lack of time and energy to enjoy all of that. 

JOIN THE TRIBE to connect with your tribe. To develop together, to learn, to feel, to be connected, to support and being supported. 



Our goal is to educate as much people in the society so that we can have more people who are calmer, balance and centered. This will help the world to be better to live in. 


How We Can Help

We help you connect. Connect with yourself, with the very core of our own existence. We connect you to the resources, education, therapies, communities support to support your need to be able to highly function in the daily basis.


Therapy   Practice   Assessment   Learn   Connect

Our program combines multiple methods to help build the connection of the nervous system. We combines our yearly practices and research to become a program that will serve you ends meet with practical and reliable tools. 

We understand sometimes, we feel alone with our own problems. The world is so big and we are so small. This is why we offer hands for you to reach. 


Overwhelmed? 
Have you tried all the techniques but nothing seems work? We provide the program which including you to empower you, educate you so you have tools and strategies to deal with your own problems. 
We educate you to understand the roots of the problems, and we provide you with tools and strategies that you can use to deal with problems you've encounter.


Stop Thinking (Start Moving)
In Samatha Center we provide movement program to help you deal with the overthinking. 
Do you know that our body stored the emotions we experience. If fear is your default emotions, the body stored the fear and send the signals to the brain, so then we keep perceiveing the environment as a dangerous place. 
So one of the effective technique is to let the physical body to let the fear go, then the mind can be function for our development. 


Learn How You can Change
We help you aware with the old pattern that no longer serves you. We help you using various methods which include changing the mind by connecting our neurological brain pathways, use and move the body with building the awareness of our physical body, and aware with the behavior we ussually showed. 
Brain/ Mind     Body     Behavior



2010-2020



Selasa, 13 Agustus 2019

Journal (inspirasi dari obrolan Patrick Grove dan Vishen)

Baru selesai nonton Youtube-nya Vishen Lakhiani, founder dari Mindvalley, yang ngobrol bareng Patrick Grove soal pentingnya buat jurnal.
Patrick Grove sempat buat rencana 100.000.000 dollar dalam waktu setahun. Bisa? Bisa meskipun agak lama. Tapi bahkan dia bisa buat 750juta dollar. Gilak!!

Ada lagi prinsip 6Fnya Patrick yang bisa bantu untuk tetap balance ketika dalam kondisi hectic.
Urutan sesuai dengan prioritasku yah.
- Family
- Friends
- Fun
- Finance
- Fitness
- Figurehead (Image yang ingin dibangun)

Prinsipnya bisa dengan free-writing. Dan judulnya bisa macam-mace, misalnya aja.
"What would Sisilia be like in 5 years?", atau "How do I make 100.000.000 in one year." dan begitu seterusnya.

So, I would start the journaling proses. NOW.

Minggu, 10 Desember 2017

Review Buku: Mindshift - Mengatasi Hambatan dalam Belajar dan Menguak Potensi Tersembunyi

Penghujung tahun 2018 ini ingin saya isi dengan membaca dan menulis. Maka dua kegiatan ini dapat dijadikan satu dengan cara membuat ringkasan atau reviu buku. Maka buku pertama yang ingin dibuatkan ringkasannya adalah: "Mindshift" dari Barbara Oakley, PhD. Buku ini buku baru terbitan tahun 2017. Meskipun demikian, beberapa nama besar menuliskan dukungan mereka terhadap penerbitan buku ini.

Berikut ini adalah transkreasi dari reviu singkat salah satu perusahaan perdagangan elektronik multinasional Ama*on.
Mindshift mengungkap bagaimana kita dapat melampaui ide-ide kaku yang terikat stereotipe mengenai apa yang mungkin kita pelajari dan bagaimana kita menjadi yang kita pelajari tersebut. 
Buku ini menunjukkan pada kita bagaimana kita membuka dan mengembangkan talenta-talenta yang - tidak kita sadari - kita miliki, terlepas dari usia dan latar belakang kita. 
Kita kerap diberitahu untuk 'mengikuti passion kita', tetapi tidak itu saja, dalam buku ini, Dr. Barbara Oakley menunjukkan bagaimana kita dapat memperluas passion kita. 
Dr Oakley mengambil beberapa temuan terkait neurosains yang mengantarkan pada ide mengenai bakat dan kemampuan yang terbaru yang membantu pemahaman kita mengenai bagaimana kita dapat berubah. 

Yang dilihat sebagai karakter minus, seperti kurang kemampuan mengingat, ternyata disertai dengan kelebihan tersembunyi, seperti kreativitas yang baik. Buku mindshift ini membawa kita lebih dalam lagi kepada bagaimana manusia dapat berubah dan berkembang. Satu-satunya hambatan sebenarnya adalah pemahaman awal kita yang seringkali kaku. Tetapi dengan insight mental yang tepat, kita dapat mengakses potensi tersembunyi dan mencipatkan kesempatan baru (untuk apapun). 



Secara pribadi, saya tertarik untuk membuat blog yang mirip seperti postingan ini. Blog ini sudah launch sejak tahun 2010. Berikut penjelasan mengenai blog ini. Judulnya sama: Mindshift. Mungkin itu pula sebabnya saya ingin mengupas tentang konsep ini.

Baik, kita mulai yah. Buku ini terdiri dari 13 bab.
Bab 1, Bertransformasi.
Bab 2, Belajar bukan hanya mempelajari (Learning is not just Studying)
Bab 3, Mengubah Budaya: Sebuah Revolusi
Bab 4, Masa Lalu yang 'tidak bermanfaat', bisa jadi sebuah keuntungan (melewati pintu belakang untuk mencapai karir yang baru)
Bab 5, Menuliskan kembali aturan main: Nontraditional Learning
Bab 6, Singapore: Sebuah Negara yang Future-Ready
Bab 7, Menaikkan Educational Playing Field
Bab 8, Menghindari Kebuntuan karir
Bab 9, Runtuhnya Mimpi, membawa pada Mimpi yang baru.
Bab 10, Mengubah Krisis Paruh Baya ke Midlife Opportunity
Bab 11, Nilai manfaat MOOC dan Pembelajaran Online
Bab 12, Penyusunan MOOC
Bab 13, Mindshift and kelanjutannya.

Postingan selanjutnya akan membahas setiap bab.


***



Minggu, 30 April 2017

B.e.r.s.y.u.k.u.r #edisiMudik36jam

Sebagai Homo Religius atau mahluk beragama, tentu saja saya meyakini kehendak Sang Pencipta sebagai rencana terindah. Tentunya tanpa melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai pengambil keputusan lo ya.. Tetapi meskipun demikian bahkan saya meyakini bahwa keputusan saya tidak betul-betul lepas dari keinginan-Nya mengarahkan hidup saya. Amin.

Sampai saat ini sudah begitu buanyaaaaak sekali rahmat dan berkat yang sudah Allah berikan dalam hidup saya, sehingga rasanya tidak cukup hanya mengucap syukur dalam doa-doa. Saya ingin membagikannya kepada banyak orang. Mungkin supaya semakin banyak berkat yang diberikan-Nya buat saya yah.. hehee... Amiiin.

Lebaran tahun 2016 merupakan hari Raya yang cukup berkesan buat saya hingga hari ini. Pembukaan exit tol baru Brebes Timur sempat menggoda kami untuk mencobanya. Bayangkan saja, betapa kurang isengnya kami, merayakan lebaran juga enggak, butuh silaturahmi ke keluarga yang merayakan juga enggak, nah kan..

"eh, Ma.. tol baru sudah dibuka lho, di Brebes.. wuaah, perjalanan kita bisa lebih cepat niih", ujar si papa.
"Ayook, kita jalan ke Semarang, yook.. sambil nyoba tol baru..", tambah semangat dia...

Berhubung lebaran tahun itu jatuh di hari Rabu dan Kamis, dan pemerinta berbaik hati mengurangi jatah cuti kita dengan menetapkan cuti bersama di hari Senin, Rabu dan Jumat, maka praktis kita memiliki hari libur satu minggu.
Nah, gambling dimulai di sini.. Kapan kita mulai jalan? Di hari Kamis, seminggu sebelumnyakah? hari Jumat? atau Justru mendekati hari Minggu? dengan harapan jalur mudik akan terbagi rata ramainya karena panjangnya waktu libur sebelum lebaran. Silly me...!! It never happen... Si Papa sibuk mengikuti berita jalur mudik di televisi, dan bilang kalau jalur mudik lancar jaya. Tanpa kami berpikir bahwa bersamaan dengan itu 13 juta orang berpikir hal yang sama.. (http://www.dephub.go.id/welcome/readPost/badan-litbang-kemenhub-prediksi-25-juta-orang-akan-mudik-tahun-ini)

Daan, terjadilah yang harus terjadi, haahahaaa.. M.A.C.E.T.
Bahkan semua berita nasional memberitakan kondisi macet yang dikategorikan sebagai macet mudik terparah.
http://regional.kompas.com/read/2016/07/04/13524671/.ini.luar.biasa.macetnya.ini.mudik.paling.parah.
http://www.viva.co.id/ramadan2016/read/796250-macet-mudik-lebaran-2016-mabes-polri-minta-maaf
https://news.hargatop.com/2016/07/01/berita-info-jalur-mudik-lebaran-2016-sore-ini-macet-parah-di-exit-gt-brebes-timur-jalur-pantura-lancar/4127332.html

Perjalanan dimulai Sabtu, 2 Juli 2016 dini hari.. Dengan semangat 45, kami mulai berjalan. Sangaaat optimis bahwa perjalanan akan lancar.. yaiyalah, kalau baru mulai jalan saja sudah loyo, bagaimana selanjutnya, ya gak.. Maka kami mulai perjalanan dengan doa dan semangat.

Google Maps mulai menunjukkan keperkasaannya... Setelah setengah jam perjalanan, Dia menyuruh kami keluar dari tol cikampek dan menyusuri jalan biasa. Kami ikuti saja.. Saat itu di HP tertera waktu perjalanan akan berlangsung selama kurang lebih 8 jam. Makin optimislah kami... 461, 7 km ditempuh dalam 8 jam seperti perjalanan-perjalanan normal kami sebelumnya.

Selang satu jam berikutnya kami menyusuri Karawang Barat, lalu Karawang Timur melalui jalur biasa. Jalur memang tidak macet, tetapi tidak selancar perjalanan kami sebelumnya. Kami cek lagi, waktu tempuh perjalanan, anehnya masih tetap 8 jam.. Kenapa tidak berkurang juga? [sekarang saya paham, itu terjadi karena dari seluruh jalur yang akan kami tempuh, kepadatan kendaraan sudah menuju titik jalur pantura.] Ini artinya kami berkompetisi dengan ribuan kendaraan yang sedang menuju arah yang sama..

Sampai jam 7 malam, kami bahkan masih belum sampai Tegal. Berarti sudah 16 jam kami di jalan. Yang perlu disyukuri adalah, baik papa Atha, Atha maupun mamanya berada dalam kondisi psikhis yang sangat baik. Kami bisa menyikapi perjalanan ini dengan sangat positif. Anaknya bahkan masih bisa bercanda-canda. Heheee... bayangkan saja, kalau yang terjadi sebaliknya.. Haduuuh.. lelah lahir batin dong..

Malam hari itu, pikiran-pikiran ingin lepas dari situasi macetpun muncul. Dari yang ingin belok ke jalur selatan, ingin mampir ke Wonosobo, sampai ingin menginap dulu di jalan. Tidak semuanya ingin diseriusi. Yaiya, karena ini hanya pikiran nakal yang muncul untuk melepaskan diri.
Perjalanan padat di jalur pantura, membuat papa Atha berniat belok melewati jalur Selatan. Analisisnya jalur Selatan tidak akan sepadat jalur yang sedang dilewati. Tapi ternyata masuk ke jalur selatan dari jalur utara ketika waktu mudik, tidaklah mudah. Semua jalur tertutup. Tapi dasarnya BEJO, ada satu waktu, kami justru diarahkan ke jalur selatan.

Setelah akhirnya berhasil masuk di jalur selatan, kami melewati jembatan yang melintasi jalan tol Pantura yang macet total. Di situ kami merasa sangaaat bersyukur. Jam 09.00 malam itu, rasa syukur kami rayakan dengan makan bakso.

Ternyata jalur selatan tidak seindah yang dibayangkan. Kami tetap berkutat dengan macet di mana-mana. Bahkan bahan bakar mobil yang mulai tiris mau tidak mau memaksa untuk berhenti dan menginap di POM Bensin.
Jam 00.30 kami sampai di POM Bensin yang ketiga (karena di kedua stasiun pengisian yang sebelumnya, kami kehabisan bensin dan pada saat itu, masih berpikir bahwa siapa tahu POM yang berikutnya masih ada bensin. Tapi kembali lagi, kami lupa kalau kami bersaing dengan begitu banyak kendaraan dengan kondisi yang mirip).
Beritanya di sini:
http://ramadhan.kompas.com/article/read/2016/07/04/22543131/terjebak.macet.pemudik.terpaksa.beli.bensin.eceran.rp.50.000.per.liter

Oke.. kembali ke POM Bensin yang ketiga ini. Kami sempat bingung dengan situasinya. Banyak orang, banyak kendaraan mengantri, tetapi tidak ada transaksi apa-apa, malah banyak orang yang tidur-tiduran di situ. Suami sempat ragu tetapi tetap memasukkan mobil ke dalam POM Bensin.
Setelah ditanyakan, ternyata tanki pengisi bahan bakar masih di jalan, sudah jalan sejak jam 4 sore dan belum tiba juga jam 12 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu, mengantri, sambil beristirahat. Karena tidak mungkin juga bisa berjalan jauh dengan kondisi bahan bakar kritis begini.

Bergantian dengan papa Atha untuk menemani anaknya yang mulai eksplorasi, kami mencoba menikmati tempat sambil beristirahat. Tidak terasa lama, sekitar jam 6.30 pagi, tanki pengisian bahan bakar sudah tiba.. Puji Tuhan..

Setelah melewati situasi 'mulur' dan 'mungkret', istilah yang dipakai Ki Suryomentaram untuk menggambarkan suasana hati senang dan susah. Suasana hati senang (bungah) dan susah akan terus muncul silih berganti dalam setiap peristiwa hidup kita. Maka setelah pengisian bahan bakar, rasanya bungah hati.. senang.. (etapiii, siap-siap susah lagi yaa..!).
Menurut Ki Suryomentaram, Jika bungah dan susah dipahami sebagai sebuah proses yang alami, maka tidak ada yang namanya penyesalan. Semua lewat begitu saja. "Bungah, yo bungaho" (senang yang silakan senang saja), "nek susah, yo diwasno" (jika susah ya diamati saja).

Jika sekarang dibayangkan, maka perjalanan 36 jam itu rasanya beraaat sekali. Engganlah jika disuruh mengulangi kembali. Bayangkan saja, perjalanan panjang itu harus dilewati dengan kondisi AC mobil yang trouble. Hadeeeuh.. gak kurang-kurangnya cobaan dan tantangan hidup kami kaan...

Tapiiiii, dengan segala halangan dan kesulitan di atas, keajaiban yang kami temui juga buaanyaaaak sekali. (#count_the_blessings)
- Sebut saja ditunjukkan jalan oleh orang tidak dikenal, melewati sawah dan perumahan, bahkan dia sempat menyingkirkan halangan di tengah jalan. Tapi tiba-tiba di ujung jalan orang tersebut menghilang.
- Masuk di POM bensin yang antriannya sudah mengular, tetapi karena ketidaktahuan kami, malah kami masuk di antrian depan.
- Ketika kami berniat melewati jalur selatan, tetiba ada peluang dan arahan untuk menuju ke sana.
- Dari antrian yang panjang, tau-tau ada 4-5 anak usia SMP menyuruh kami mengambil belokan untuk sampai di tempat di depan kami.
- Ditunjukkan jalan alternatif oleh penduduk setempat, tetapi karena sepi tidak ada yang melewati maka sempat bingung lewat mana. Tetiba, muncul angkot dan ketika kita tanyakan arah, dia minta kita mengikutinya.

Kalau bukan malaikat, saya gak tahu lagi menyebutnya dengan apa... Semua mereka ini adalah malaikat penjaga kami sekeluarga.
Maka tak henti-henti kami mengucap syukur pada Tuhan. Puji Tuhan.

Jika Tuhan melindungi saya dan keluarga saya, maka Dia pun akan melindungi kita semua. Dia akan melindungi dan memberkati negara kita Indonesia. Tuhan tidak akan menjauh dan menutup mata dari semua peristiwa yang terjadi. Tuhan tidak akan tinggal diam.



#NKRI #BerkahAllah #PerlindunganAllah #PenyelenggaraahIlahi


***










Rabu, 07 September 2016

Tempat Sampah

Yak, sejak Februari 2016 kemarin resmilah saya berpindah divisi. Dari akademik menjadi semi staff non-akademik. Semi, karena masih mengajar dan terlibat dengan kegiatan akademik seperti pengajaran, penelitian, dan pelayanan terhadap masyarakat.

Student Counselor atau Konselor mahasiswa, itu judulnya. Job desc-nya mirip dengan 'tempat sampah'. Kok tempat sampah? jelek banget permisalannya.. yah emang begitu.
Coba.. tempat, tempat apa yang dibutuhkan untuk membuang sesuatu yang jelek, dan mengganggu? Dibutuhkan tetapi sering tidak diingat kalau ada..? yaa... itulah Tempat sampah!
Boro-boro dirawat dan dijaga, seringkali malah jadi mirip sama isinya.. ya sampah.

Nah, berhubung itu yang disadari oleh kami para konselor. Makdarit, kami berusaha menjaga diri. Menjaga diri dengan hidup bersih. Bersih dari aura negatif yang seringkali terbawa oleh klien-klien kami. Transfer energi sebetulnya adalah hal yang wajar di dalam setiap relasi. Namun, lain lagi ketika relasi yang terbentuk bertemakan energi-energi negatif seperti amarah, kesedihan, kekecewaan, trauma, ketakutan. Tema-tema inilah yang biasanya mewarnai ruang konseling.

Pada saat kami memutuskan untuk bersedia menjadi 'tempat sampah', maka kami pun sudah perlu menyiapkan diri dengan segala konsekwensi ini.
Banyak yang merasa menjadi tempat curhatan orang itu mudah. Kan tinggal mendengarkan orang bercerita. Betul.
Saya sering kok, dimintai pendapat teman-teman saya. Mereka sering curhat ke saya dan minta nasihat saya.
Nah itu dia bedanya.
Bapak client-centered therapy, om Carl Rogers mengatakan bahwa setiap kita memiliki kapasitas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi dengan demikian buat apa tanya pendapat orang lain. Mereka sudah tahu. Mereka sudah paham. Tidak perlu lagi dinasihati dan diberi wejangan yang panjang kali lebar dan terasa membosankan. Tidak.. bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka hanya butuh katarsis. Mereka butuh mengeluarkan gejolak, percikan emosi yang pada saat itu menutupi mata dan kesadaran mereka sendiri.
Begitu kita konselornya mampu berperan seperti cermin yang jernih. Mampu merefleksikan gambaran real diri mereka sendiri, maka tanpa ada kesulitan, insight akan mereka peroleh sendiri. Pemahaman terhadap pemecahan masalah yang saat itu terasa berat akan jelas muncul di kepala mereka.

Penerimaan. Itu kuncinya kata om Rogers. Jika kita mampu menunjukkan sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional acceptance) maka klien akan mendapatkan pemahaman penuh mengenai diri mereka sendiri. Jalan keluarnya pun akan mereka peroleh sendiri. Mudah bukan...

Bukan!

Itu proses yang sama sekali tidak mudah. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses ini seringkali memberikan rasa tidak nyaman, dapat muncul juga perasaan sakit hati karena penolakan yang selama ini sering diperoleh dari sekitar. Sudah sedemikian biasanya kita dengan rasa sakit dan tidak nyaman yang selama ini lebih sering kita rasakan, sehingga ketika proses konseling memberikan pencerahan dan release yang tidak biasa mereka alami, biasanya mereka akan kembali lagi kepada pola-pola lama yang biasa mereka dapatkan, yaitu penolakan dan ketidaknyamanan. Bukan karena tidak ingin terlepas, melainkan karena kondisi inilah yang paling mereka kenal.

Salah satu metafora yang sering saya gunakan untuk menunjukkan pengenalan terhadap diri sendiri yaitu proses pengenalan diri ibarat mengupas dan mengupas bawang bombay, satu lapis ke lapisan lebih dalam lagi memberikan kita bukannya rasa nyaman dan enak melainkan rasa pedih dan pedas di mata dan hidung. Seperti itu pulalah proses pengenalan diri.
Ego kita sudah sedemikian tebalnya sehingga ketika kita mengupas bawang bombay untuk mendapatkan intisari siapa diri kita sesungguhnya rasanya berat dan menyakitkan.

Tetapi percayalah, proses yang terasa tidak mengenakkan ini sesungguhnya sangat membantu kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan yang selama ini dikatakan ayah ibu kita, bukan pula yang dikenal teman-teman kita, bukan juga yang dilihat guru kita di sekolah. Bukan seperti itu. Carilah lebih dalam siapa dirimu.

Virginia Satir seorang psikolog keluarga mengatakan bahwa dirimu bukanlah definisi yang dibuat orang-orang atas kamu.

So, define yourself. Who are you?

Minggu, 12 Oktober 2014

B.e.r.s.y.u.k.u.r.#edisi_kereta

Beberapa kejadian dalam seminggu ini membuat saya sangat bersyukur dan ingin berbagi. Dan meskipun tidak ada yang menantang untuk #counting_the_blessing, (hehee, tidak minta ditantang juga sih), saya mau mengucap syukur.
Hari Sabtu sore kemarin kami pergi untuk mengantarkan papanya Atha ke stasiun Gambir untuk pulang ke Semarang. Kereta berangkat jam 17.00 tapi kami baru berangkat dari rumah di Jatiasih jam setengah empat. Sudah paham kalau hari Sabtu adalah hari macet seJakarta, tapi yah rencana berangkat jam 2, mundur ke jam 3, sampai akhirnya betul-betul jalan jam 15.30.

Kami hanya punya waktu satu setengah jam, ke arah Gambir di hari Sabtu sore. Mau marah atau kesal, sama siapa, dan buat apa, toh sudah terlanjur. 

Betul saja, masuk tol dalam kota, jalan sudah merayap cenderung berhenti.. spontan kami mengambil tol Rawamangun yang mengarah ke Pramuka. Rencananya kami mengambil arah Senen melewati Salemba. Ternyata tidak berbeda dengan tol dalam kota, kendaraan berjalan sangat pelan.. sementara itu detak jantung saya berbanding terbalik dengan kecepatan kendaraan. Jam pun rasanya tidak ada toleransi, terus saja bergulir tanpa ampun.

Jam 16.23 kami baru keluar di Rawamangun, ...daaan... kami salah mengambil belokan. Alih-alih belok kiri mengarah ke paseban, kami malah lurus mengambil jalan layang ke arah cempaka putih raya. Tidak masalah kalau kami tahu jalan.. masalahnya adalah suami orang Semarang sedangkan saya spatial-disorientasi kronis. Eyang Atha yang saat itu juga ada di dalam kendaraan, sebetulnya adalah "Ratu Jalanan" pada jamannya. Jaman sekarang, ternyata beliau kalah dengan pembangunan ibukota yang cukup masif sehingga mengurangi daya perseptualnya. 

Kami terus berjalan pelan sambil melihat marka jalan yang dapat menunjukkan arah Senen. Kalau saya ingat lagi, reaksi kami masing-masing dalam kendaraan sangat unik, terutama eyang Atha. Begitu masuk di jalan tol yang merambat, beliau langsung saja mengeluarkan kalung rosario dan berdoa. Itu sebabnya ketika kami salah mengambil jalan dengan tidak berbelok, Eyang Atha sangat merasa bersalah, dan berulang-ulang kali mengucapkan penyesalannya.. Papa Atha, sempat merasa tidak yakin dan meminta saya menelpon PT KAI untuk memesan tiket baru untuk jadwal keberangkatan malam. Untung saja, beberapa kali mencoba tapi tidak tersambung. Kalau saya sendiri, seberapa besar saya berusaha menenangkan diri, saya tetap merasa tidak yakin dan mulai menyalahkan orang lain. 

Beberapa kali saya merasa perlu untuk selalu mengingatkan diri saya sendiri menarik napas, mengeluarkan napas, menarik napas, mengeluarkan napas... begitu terus untuk membuat tenang dan lebih fokus. 

Kembali ke jalan Cempaka Putih dan area Rawasari, kami teruskan perjalanan untuk paling tidak mengarah ke Senen. Karena sekali lagi, itu jalan yang kami tahu dapat mengarah ke Gambir. Sampai di belokkan Cempaka Putih Raya satu hal yang kami cari adalah Bajaj, karena jam saat itu sudah menunjukkan pukul 16.33. Dengan kondisi tidak ada yang tahu arah dan jalan yang agak padat, kami lebih percaya pada profesional jalanan. 

Tidak lama kami lihat 3 bajaj kosong dan satu orang yang sempat saya ragukan seorang supir bajaj. Ternyata betul dia orangnya, jodoh kami. Tidak lama nego harga, si supir menyatakan sanggup mengantar kurang lebih 20 menit sampai Gambir, maka semua barang pun berpindahtempat. 

Kami memutuskan untuk tetap mengikuti dan berjalan di belakang bajaj agar, jika betul tidak sampai tepat waktu, kami bisa mengantarkan ke sta.Senen untuk menunggu kereta malam. Hahaa, dasarnya saya, bajaj ke mana.. saya ke mana... hilanglah jejak itu bajaj. 
Jalan sendiri-sendiri.. saya terus berdoa dan berharap papa Atha sampai tepat waktu. 
Dan betul saja, jam 16.55, telpon berdering dan sudah ada di dalam kereta. Puji Tuhan!!

Hhhhh... sore yang melelahkan sekaligus ajaib. 

Article: Mari Bicara Stres

Stres bukanlah sesuatu yang sekedar 'kita lalui'.  Stres sesungguhnya adalah pengalaman fisiologis pada tubuh fisik kita. Saat ada ...